ESAI
Trending

Dua Hari yang Paling Fantastis di Asrama

Penulis: Akasia Shabir

Selama jadi guru asrama, ada dua hari yang paling fantastis bagi saya, yaitu hari Sabtu dan Ahad. Sensasinya seperti naik Roller Coaster, penuh dinamika yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Kalau tidak sabar dan kuat, bisa kolaps di tengah jalan.

Jumlah guru yang bertugas di hari Sabtu-Ahad tidak sebanyak hari biasanya. Guru ikhwan enam orang, sedangkan guru akhwat lima orang. Satu orang guru memegang dua kamar.

Sebagian santri memang izin pulang di dua hari tersebut untuk sebuah keperluan, entah itu les, sakit, membeli barang kebutuhan pribadi, urusan keluarga, dan lain sebagainya. Namun, itu semua tidak lantas membuat tanggung jawab pengasuhan, pengawasan, dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih ringan. Ada saja tantangan dan rintangan yang dihadapi guru-guru di hari Sabtu-Ahad.

Untuk urusan membangunkan, menjaga kerapihan dan kebersihan kamar, serta memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mereka harus bolak balik dari kamar yang satu ke kamar yang satunya lagi. Belum lagi perihal kegiatan asrama yang lain, seperti Kajian Dhuha, Ekstrakurikuler, Sholat Lima Waktu, Qiraatul Mujawwad, Zikir Al-Ma’tsurat, Qiroatul Qur’an, Liga Asrama, Tahsin-Tahfiz, Shooting Film, dan piket gerbang di pagi, siang, maupun sore hari. Itu belum termasuk melayani komunikasi dengan wali santri, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedang mengajar eskul, ada telepon dari wali santri. Sedang mengarahkan santri ke masjid, ada pesan wa dari wali santri. Sedang kajian Dhuha, ada telepon berkali-kali dari wali santri. Sedang Qira’ah Mujawwad, ada wali santri yang ingin bertemu anaknya.

Nah, di sela hiruk pikuk tersebut, rupanya masih harus ditambah lagi dengan masalah yang ditimbulkan santri, seperti berkelahi, minggat, mencuri, bullying, kehilangan barang, dan lain-lain.

Berdasarkan catatan, kasus yang selama ini mencuat di asrama, kebanyakan terjadi di Sabtu-Ahad. Bukan karena lemahnya rasa tanggung jawab guru-gurunya, melainkan lebih karena masalah kekurangan personil.

Pengkondisian di masjid juga bukan perkara yang bisa dibilang baik-baik saja. Apalagi banyak diantara para santri yang sepertinya kurang atau tidak paham dengan bahasa kata-kata. Pengarahan dan instruksi yang diberikan guru lebih seringnya bernasib seperti angin lalu, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Disuruh memenuhi Syaf yang kosong di depannya malah melipir ke samping atau mundur ke belakang. Ada juga yang diam, pura-pura tidak mendengar. Bahkan, ada juga santri yang menimpali dengan omelan tidak jelas.

Sebagai guru, tentunya kami ingin segala kegiatan di asrama, khususnya di Sabtu-Ahad berjalan sebagaimana seharusnya. Bila tidak, tentu akan ada banyak pihak yang dirugikan. Santri tidak mendapatkan manfaat selama nyantri, orang tua merasa sia-sia telah mengeluarkan banyak uang, dan lembaga bisa kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Oleh sebab itu, rasanya tidak benar membiarkan santri riuh, sementara azan sedang dikumandangkan. Rasanya tidak benar mendiamkan santri sibuk berceloteh satu sama lain saat kegiatan zikir Al-Ma’tsurat dan Qira’atul Qur’an tengah berlangsung. Rasanya tidak benar membiarkan santri tertidur pulas saat sedang belajar Tahsin dan Tahfiz Qur’an. Rasanya tidak benar membiarkan santri melakukan sesuatu di luar waktu dan tempatnya. Rasanya … ah, begitulah tantangan-tantangan yang kami temui di lapangan. Seperti naik roller coaster, rasanya nano-nano.

Kami harus kuat. Kami harus sabar. Kami harus terus berjuang. Seperti itulah yang bisa kami lakukan pada akhirnya. Sebab lelah di jalan Allah adalah kenikmatan yang sulit digambarkan.

Palembang, 29 Agustus 2023

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button