ESAI

20 Tahun SIT Al-Furqon Mengabdi Untuk Negeri

Penulis: Alfi Muhammad

20 tahun perjalanan bukan sekedar cerita biasa. Ia adalah sejarah. Masih panjang hari-hari pengabdian yang harus dilalui. Hari ini 20 tahun, insya Allah ke depan akan seratus tahun, bahkan seribu tahun.

Seperti kata Choiril Anwar, ” Aku ingin hidup 1000 tahun lagi.”

Dalam rentang itu, para muasis atau sang pendiri: H. Juliar Rasyid, Umi Desmawati, H. Emil Rosmali dan keluarga besar, serta generasi awal seperti Bunda Dwi Murni, Ustadz Agus Priatmono, Ustadz Khoiri Susanto, Bunda Salamah dan lainnya telah meretas jalan dan membangun pondasi lembaga yang kokoh.

Kecuali umi Desmawati (Allahu yarham) yang telah berpulang, semua masih sehat dan sebagian besarnya relatif muda sehingga ke depan akan terus berkarya mencerdaskan bangsa, mendidik generasi, ditambah figur muda yang energik seperti H. Chairil Abdillah, SIT al-Furqon berharap akan terus mengembangkan sayapnya lebih jauh.

Pada dua dekade berdirinya, para perintis tampaknya terus menyempurnakan upaya ta’shil atau membangun orisinalitas lembaga dan stabilitas sistem, seperti visi misi, nilai-nilai, keunikan dan ciri khas, kurikulum, SOP dan turunannya, manajemen kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, termasuk sistem daya tahan lembaga.

Sistem itu, pertama memungkinkan lembaga dapat berjalan tanpa terlalu bergantung pada individu dan figur tokoh. Kedua, memungkinkan diisi SDM profesional dan kompeten, meski diluar lingkaran keluarga utama. Ketiga, menjadikan guru merasa nyaman karena diberi kebebasan berkreasi, tanpa campur tangan yang terlampau jauh. Lembaga memberi kebijakan garis besarnya, selebihnya adalah imajinasi dan kreasi guru dilapangan.

Peranan generasi pertama tersebut tak dapat dipungkiri mampu mencipta stabilitas dan ketenangan. Memang ada nama-nama yang datang dan pergi tapi tak membuat perjalanan berhenti. Juga ada banyak aral rintangan dan benturan yang mewarnai perjalanan, tapi al-Furqon tak kehilangan fokus pada tujuan. Ujian dan cobaan tak pernah sepi, bahkan datangnya bertubi-tubi. Alhamdulillah, al-Furqon tetap berdiri. Termasuk yang paling berat adalah ketika datang badai Pandemi covid 19. Atas nikmat dan rahmat Allah berhasil dilalui.

Maka ke depan, menyongsong seperempat abad berdirinya, seharusnya adalah fase tathwir yaitu fase pengembangan lembaga yang lebih luas dan masif. Bukan berarti 20 tahun ini tanpa perkembangan. Justru perkembangan itu nyata, terutama pada dekade yang kedua. Awalnya murid hanya belasan kini sudah ribuan. Awalnya hanya SD kini ada PGTK, SD, SMP, SMA dan Asrama.

Tapi dengan pondasi yang di bangun selama 2 dekade itu, diharapkan jangkauan dan pengaruhnya bisa jauh lebih besar. Sekarang masih skala lokal, kedepan mungkin regional atau nasional bahkan internasional. Seperti visi misi al-Furqon, yaitu menjadi sekolah unggulan dan rujukan. Kini sudah unggulan dan rujukan di Palembang dan Sumetera Selatan, kedepan harus menjadi rujukan Indonesia. Belum lagi jika bicara tentang menjadi batu bata peradaban, maka itu terkait skala global, dimana kita turut serta mewarnai dunia.
Akan ada lebih banyak tantangan dan aral rintangan kedepan. Tapi merefleksi 20 tahun ini, SIT al-Furqon Palembang insya Allah berasa dalam track yang benar untuk terus melaju dengan kekuatan penuh. Kita hanya perlu terus berbenah, muhasabah diri, membangun soliditas, membangun kepercayaan, dan semakin merunduk sujud kepada Allah.
Mabruk alfa mabruk SIT Al-Furqon Palembang. Teruslah berkarya mencerahkan bangsa.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button