ESAI
Trending

Lawak di Outbound 2023

Penulis: Akasia Shabir

Namanya Pak Hariadi, tapi lebih senang dipanggil Pak Alex. Selama Outbound kelakuannya suka aneh-aneh, bikin jengkel sekaligus ngakak. Kata Pak Sutardi, security di unit HBR Motik, itu karena Pak Alex kebanyakan makan ubi.

Ceritanya begini, sebelum sampai ke lokasi Outbound, bis yang kami tumpangi sempat nyasar. Untung panitia segera muncul dan mengarahkan kembali ke jalur yang benar.

Bis sudah memutar arah, seharusnya langsung tancap gas. Akan tetapi kami harus menunggu dulu bis rombongan akhwat yang berada di belakang supaya tidak tertinggal.

Suhu udara di dalam bus yang memang sudah panas sejak keberangkatan, memaksa kami membuka pintu penumpang. Udara segar masuk, meskipun tidak seratus persen bisa mengusir hawa panas, namun sudah cukup mengobati ketidaknyamanan kami. Di saat itulah tiba-tiba Pak Alex turun dan pergi entah ke mana.

“Nah, nak kemano, Pak Alex? Jangan jauh-jauh! Agek ketinggalan,” seru yang lain.

Ada peserta yang bilang kalau beliau hendak buang air kecil.

Kami menunggu cukup lama. Sebagian peserta mulai menggerutu. Dua orang panitia yang tadi muncul lagi. Mereka memberi kode supaya bis segera berjalan.

Kami cemas. Pertama, bis rombongan peserta akhwat di belakang kami belum juga terlihat. Kedua, Pak Alex yang katanya buang air kecil juga belum kembali. Suasana jadi kisruh saat bis mulai berjalan. Sebagian peserta berteriak-teriak, minta sopir menunggu. Namun, bis tetap berjalan, meskipun pelan.

Kami pasrah, menyerahkan nasib Pak Alex sepenuhnya kepada yang di atas. Terserah mau dikemanakan dan mau diapakan sama Allah.

Akhirnya tokoh utama yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Pak Alex berlari-lari kecil sambil menggedor-gedor pintu bis. Sialnya, pintu bis tidak bisa dibuka. Asli! Tidak bisa dibuka. Entah apa yang terjadi. Mungkin pintunya macet atau karena tidak tahu cara membukanya. Ustad Andi atau ustad Endang atau ustad yang lain (saya lupa) yang berusaha membukanya tampak putus asa. Pak Alex disarankan untuk masuk melalui pintu depan.

“Gawe … gawe … mak inilah kalau kebanyakan makan ubi!” seloroh seorang peserta saat Pak Alex memasuki bis. Selorohan tersebut segera disambut gelak tawa peserta lain.

Cerita lawak lainnya terjadi di malam Solo Bivak. Waktu itu kami sedang dikumpulkan di suatu tempat dengan mata tertutup guna menunggu giliran menuju lokasi Solo Bivak. Posisi kami duduk sambil saling memegang bahu kawan yang ada di depan. Beberapa peserta dari kelompok lain terdengar mengobrol dengan suara pelan, hingga kemudian disuruh diam oleh seorang panitia. Suasana kembali tegang. Hanya terdengar suara gesekan sepatu ke tanah, helaan napas, atau tas yang beradu dengan anggota.

Tiba-tiba … bruuut!

Seseorang yang berada di barisan saya kentut. Suaranya dari arah belakang. Para peserta sontak tertawa.

“Siapa itu yang kentut?” sambar panitia.

“Pak Alex, Tad! Pak Alex!” seru yang lain sambil ngikik.

Entah benar atau tidak, malam itu Pak Alex jadi kambing hitam, atau bisa jadi memang beliau tersangkanya. Soalnya tidak ada klarifikasi langsung dari pelakunya saat itu juga.

Pagi harinya, setelah sholat subuh dan Tadabbur Kauniyah bersama Pak Agus Priyatmono, kami, kelompok satu, dikumpulkan dan disuruh push up oleh panitia. Bukan gara-gara masalah kentut semalam. Perkara itu sudah lewat. Kali ini disebabkan ada satu anggota kelompok kami yang ketahuan tidak sholat subuh berjamaah. Siapa lagi orangnya kalau bukan Pak Alex.

Tidak lama kemudian, setelah dipanggil panitia, orangnya datang dengan wajah kusut. Rupanya baru bangun dari tidur. Saat itu waktu menunjukkan hampir pukul 06.00 pagi.

“Sudah sholat Subuh, Pak?” tanya Ustad Firman ke Pak Alex.

“Belum, Tad,” jawab Pak Alex setengah tersenyum.

Pak Alex-Pak Alex … padahal sudah dibangunkan untuk sholat subuh berjamaah oleh ketua kelompok. Ternyata bablas tidur lagi.

Apesnya buat kami, pagi-pagi bukannya sarapan nasi, malah sarapan push up. Ha-duh!

Begitulah Pak Hariadi atau lebih senang dipanggil Pak Alex, seorang teknisi dari unit SIT R. Sukamto. Keberadaannya di kegiatan Outbound membawa warna tersendiri.

Bagi para peserta, tanpa keberadaan Pak Alex, kegiatan outbound mungkin akan terasa hambar, seperti sayur tanpa garam. Sikapnya yang santuy, konyol, dan humoris selalu berhasil mengundang kejengkelan sekaligus gelak tawa orang-orang di sekitarnya. Saya tidak tahu apakah para makhluk tak kasat mata di tempat itu juga merasakan hal yang sama atau tidak.

Palembang, 28 Juni 2023

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button