ESAI
Trending

Horor di Malam Solo Bivak

Perempuan Yang Menatap Tajam

Penulis: Akasia Shabir

Alhamdulillah, selama kegiatan Outbound saya pribadi tidak mengalami gangguan, baik dari makhluk kasat mata maupun makhluk tak kasat mata, kecuali hasil perbuatan panitia. Akan tetapi tidak dengan beberapa peserta lain.

Beberapa peserta bercerita kepada saya mengenai pengalaman horor yang mereka alami selama Outbound. Salah satunya datang dari seorang bunda unit SIT R. Sukamto.

Ada dua kejadian tidak menyenangkan (horor) yang dialaminya.

Kejadian pertama, beliau mengaku mendapat bisikan dari makhluk gaib yang menyatakan bahwa makhluk tersebut marah dengan adanya kegiatan outbound tersebut. Kalau tidak salah kejadiannya ketika Maghrib. Sebelum mendengar bisikan tersebut, beliau merasakan tidak enak badan.

Perlu diketahui bahwa beliau memang sudah terbiasa mendapat bisikan-bisikan semacam itu sebelumnya. Sejak masih duduk di bangku SMP beliau kerap mengalami hal-hal aneh, termasuk kesurupan. Kemungkinan akibat gangguan dari jin warisan. Maklum, leluhurnya dulu termasuk penganut kejawen, sangat dekat dengan hal-hal mistis.

Ada empat hal yang membuat makhluk tersebut marah.

Satu, panitia datang dan meletakkan barang tanpa permisi. Dua, keramaian yang disebabkan oleh kedatangan para peserta. Tiga, adanya kegiatan ibadah, apalagi dilakukan secara berjamaah. Empat, penggunaan ranting untuk api unggun.

Semua itu membuat makhluk tersebut tidak senang. Dia berusaha merasuki tubuh bunda tersebut agar pesannya bisa disampaikan ke orang lain.

Kejadian kedua, ketika Solo Bivak. Saat sendirian di lokasi Solo Bivak, beliau kerap melihat sinar redup yang berbeda warna dan sosok berjilbab yang melihatnya dengan mata mendelik dari kejauhan.

“Ketika hendak ke lokasi Solo Bivak, kan tiap peserta ditutup mata dan disuruh mengikuti jalan yang ada lampu teploknya. Selama di perjalanan disarankan untuk berzikir. Saya sendiri memilih untuk membaca sayyidul istighfar, Tadz. Meskipun bertemu hantu-hantuan dan dikagetkan, saya masih merasa aman, tidak sampai terjadi hal-hal aneh pada diri saya.”

Sesampainya di tenda UKS, beliau diminta rehat sambil menunggu rekan satu tim. Setelah dirasa cukup jumlahnya, mata mereka ditutup dan diarahkan ke titik solo bivak, untuk kemudian ditinggalkan sebagaimana peserta lainnya.

“Saya segera memasang matras untuk duduk, lalu mencoba menghidupkan lilin. Qodarullah, korek kayunya melempem, jadi lilin tidak bisa dihidupkan sama sekali. Alhasil, saya hanya duduk berzikir sambil bermuhasabah. Saat zikir dan muhasabah itu, hati saya terasa bergetar, bahkan sampai air mata mengalir di pipi. Saya merasa betapa baiknya Allah, masih memberikan cahaya terang melalui sinar bintang di atas sana. Jadi, saya tidak begitu takut akan kegelapan di sekitar.”

Malam semakin merayap jauh, samar-samar beliau mendengar suara peserta lain (bunda zahro) yang sedang mengaji, membaca Al-Matsurat, dan lain sebagainya. Kemudian beliau pun mengikuti apa yang dilakukan Bunda Zahro.

“Cahaya langit mulai suram dan keadaan sekitar semakin gelap. Tiba-tiba, ada suara langkah kaki dari arah belakang sebelah kiri. Saya reflek menoleh. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Saya melanjutkan dzikir sambil terus berpikiran positif. Mungkin itu panitia yang sedang mengontrol. Tidak lama dari itu, terlihat cahaya putih redup, muncul dari belakang sisi kiri kami. Tak lama kemudian cahaya itu menghilang. Saya sempat tertidur ayam dan terbangun manakala cahaya redup itu kembali muncul dan mengarah ke saya, seakan-akan ada yang ingin bilang bahwa saya tidak boleh tidur, bahwa saya sedang diawasi.”

Cahaya itu lagi-lagi menghilang. Hanya saja, sebelum menghilang, ada suara langkah kaki yang terdengar. Beliau masih berpikiran kalau itu panitia.

“Saya mengarahkan pandangan ke depan, ke atas langit, ke kanan dan ke kiri. Namun, seringnya melihat ke langit dan ke arah depan. Nah, pada saat mata saya tertuju ke depan, saya melihat seperti ada perempuan berjilbab yang melihat ke arah saya. Jaraknya agak jauh. Dia menatap saya dengan pandangan tajam. Sosoknya terlihat lengkap. Ada mata, hidung, muka, dan anggota tubuh lainnya. Pokoknya benar-benar jelas. Tapi saya tidak tahu itu siapa. Ah, mungkin itu panitia yang tidak saya kenal. Akhirnya saya menundukkan kepala sambil mengeraskan bacaan zikir. Saat saya melihat kembali ke tempat tadi, sosok itu sudah tidak ada.”

Beliau mengaku dua kali melihat sosok perempuan berjilbab. Pertama dari arah depan dan kedua dari arah sebelah kanan, tapi yang kedua, posisinya membelakangi.

“Selang beberapa saat, cahaya redup kembali muncul. Itu terjadi beberapa kali. Terakhir berwarna hijau. Jujur, saya merasa senang dengan kemunculan cahaya hijau tersebut. Bisa jadi itu betul-betul panitia. Namun, kemudian saya berpikir, ‘Kok ada cahaya hijau seperti ini? Senter siapa dan model yang seperti apa?’ Seperti bisa membaca pikiran saya, cahaya tersebut tiba-tiba mati. Saya berusaha menghalau pikiran buruk yang muncul di kepala.”

Anehnya lagi, menurut beliau, selama berzikir, bacaan yang dibacanya selalu kembali ke bacaan Sayyidul istighfar. Ketika tengah membaca surat Al-Baqarah atau juz 30 atau shalawatan, eh, yang keluar dari mulut ujung-ujungnya nyasar ke sayyidul istighfar. Beliau sendiri heran.

Saat mengarah ke waktu subuh, beliau melihat lagi cahaya redup. Tidak lama kemudian terdengar suara sirine panitia. Beliau menghembuskan napas lega dan mulai berkemas sebagaimana yang diintruksikan panitia yang datang menjemput. Beliau bertemu Bunda Zahro dan keduanya keluar bersama-sama.

“Ketika bertemu dengan teman-teman satu tim, saya iseng bertanya, ‘Bun, selamo kito di lokasi Solo Bivak, memang ado, yo, panitia yang keliling sambil nyenteri kito?’ Rata-rata dari mereka menjawab tidak.”

Namun, ada satu teman beliau yang memberi jawaban berbeda.

“Ada, Bun, panitia, tapi dak lamo. Pas awal nganter be. Setelahnya katek lagi. Kalau pun nyenteri, arahnyo ke bawah tanah, bukan yang ke segalo tempat.”

Karena penasaran, paginya beliau menanyakan langsung kepada beberapa panitia.

“Kami ni nunggu di tenda, Bun. Gawe kami nungui kalian niup pluit, baru kami datengi. Selama itu, ado yang bejago, tidok, samo makan. Dak ado kami keliling ke tempat kalian, gelep.” Begitu jawab salah satu panitia.

Jadi, siapa yang main senter dan berdiri tegak memandangi beliau di lokasi Solo Bivak itu?

Palembang, 27 Juni 2023

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button