ESAI
Trending

Degdegan di Malam Solo Bivak

Kegiatan Menegangkan di Outbound 2023

Penulis: Akasia Shabir

Seumur-umur saya belum pernah bertemu hantu atau melihat penampakan, termasuk ketika masih tinggal di pelosok daerah, di mana rumah yang saya tempati dikeliling semak belukar dan pohon kelapa. Satu rumah dengan rumah lain jaraknya rata-rata dipisahkan oleh dua hektar kebun, bahkan ada yang lebih dari itu.

Ketika malam hari suasana terasa begitu sepi. Suara motor hanya terdengar sesekali melintas depan rumah. Sisanya adalah suara serangga dan kegelapan yang menyembunyikan batang pepohonan dan semak belukar.

Untuk orang-orang yang belum pernah melihat penampakan seperti saya, barangkali rasa takut akan makhluk gaib datang dari pengalaman melihat film horor, tayangan berbau mistis di YouTube, membaca atau mendengar kisah seram yang dialami kawan sendiri.

Seperti malam itu, peluit panitia tanda berkumpul terdengar melengking. Kami yang tengah beristirahat selepas kegiatan api unggun segera berlarian menuju sumber suara sembari menggendong tas berisi perlengkapan yang wajib dibawa.

Kami dibariskan sesuai kelompok. Setelah memeriksa kelengkapan barang-barang, panitia mengabarkan bahwa malam itu kami akan segera melakukan Solo Bivak.

Kami akan dibawa masuk hutan dan ditinggalkan di sana sendirian. Kami dibekali satu batang lilin dan tiga pentol korek api untuk penerangan. Itu pun tidak menjamin lilin akan bertahan sampai panitia datang menjemput.

Kami langsung tegang, bulu kuduk merinding, pikiran buruk membanjiri kepala. Pengalaman menyeramkan itu akhirnya datang menemui kami.

Mata kami ditutup slayer. Kami tidak bisa melihat apapun. Sebagian teman-teman, termasuk saya merasa sedikit pusing.

Kami berjalan sambil memegang pundak kawan yang ada di depan, mengikuti arahan panitia. Setelah dibawa ke sana kemari, kami disuruh duduk beristirahat sambil menunggu giliran dipanggil.

Kami dipisahkan agar tidak berkumpul dengan kelompok. Dalam keadaan mata tertutup saya bisa mendengar suara-suara, meskipun samar, semisal suara orang berjalan, helaan napas, berbisik-bisik, laporan di handy talky, dan lain sebagainya.

Saya merasa satu persatu orang-orang di sekitar saya menghilang. Sepertinya mereka sudah mendapat giliran menuju lokasi Solo Bivak.

Akhirnya giliran saya tiba.

Saya dituntun menuju sebuah lokasi. Begitu slayer dibuka, saya melihat seseorang berdiri di dekat mobil. Saya tidak yakin apakah itu Pak Sunyoto atau Pak Agus Priyatmono. Terlalu lama mata ditutup membuat pandangan saya mengabur. Kalau diperhatikan dari logat bicaranya, beliau orang Jawa.

“Bisa melihat tiga lampu di sana?” tanya beliau sambil menunjuk ke arah kejauhan.

Saya mengucek mata berkali-kali untuk membuat pandangan saya kembali normal. Saya melihat tiga cahaya lampu remang-remang.

Saya mengangguk meskipun ragu.

“Silakan berjalan ke sana. Begitu sampai di lampu ketiga, belok ke kiri dan terus ikuti lampu. Tidak perlu lari dan tetap berpikir positif.”

Saya kembali mengangguk. Saya pamit.

Kegelapan menyambut saya dengan penuh seringai. Bayangan hitam yang berjajar di kiri kanan jalan seakan menggapai-gapai. Saya menarik napas, melafalkan basmalah.

Tiba di dekat jembatan, saya seperti melihat tiga atau dua bayangan berdiri di tepi. Mereka bergerak saat saya melintas. Saya diam saja, tidak berkata apapun, terus berjalan.

Dua lampu sudah saya lewati, tinggal satu lagi.

Klontang! Klontang!

Saya terkejut saat mendengar suara seperti kaleng berbunyi, persis di lokasi lampu ke tiga berada.

Saya segera berbelok ke kiri. Jalan yang saya lewati berumput dan becek di sana sini. Beberapa kali kaki saya terjebak lumpur.

Udara bertambah dingin. Lampu-lampu bergelantungan di ujung pelepah daun sawit yang menjorok ke jalan. Jarak lampu satu dengan lain lain lumayan jauh.

Ada banyak lampu yang berbaris di depan sana. Itu artinya jalan yang harus saya tempuh cukup jauh. Saya melanjutkan perjalanan dengan hati-hati.

“Assalamualaikum ….”

Seseorang mengucapkan salam. Saya menoleh. Tidak ada siapa-siapa di sana. Mungkin karena gelap. Saya mengingat dengan cepat.

Seperti suara Ustad Andri.

“Waalaikumsalam,” jawab saya, lalu kembali melangkah.

Saya tiba di pertigaan jalan dan melihat seperti ada sekumpulan orang di sana. Mereka berdiri tanpa bersuara.

Saya teringat dengan apa yang diintruksikan di awal.

Ikuti lampu dan tetap berpikir positif.

Saya memutuskan untuk terus berjalan dan harus sampai ke tujuan akhir, yaitu tempat Solo bivak. Lagi pula mereka juga tidak menghentikan langkah saya.

Saya berbelok ke arah kanan dan bertemu pertigaan lagi. Di pinggir jalan, lagi-lagi ada sekumpulan orang. Posisi mereka tidak berdiri, melainkan berbaring. Ada satu unit sepeda motor di dekat mereka.

“Mau ke mana? Kok buru-buru? Takut ya?” Salah satu dari mereka menghentikan langkah saya yang hendak melewati mereka.

“Sini-sini!”

Saya mengundurkan langkah, lebih mendekat ke mereka.

“Mundur lagi!”

Saya mundur.

“Kenapa buru-buru? Takut ya?”

Saya sengaja diam, tidak menjawab.

“Namanya siapa?”

Saya menyebutkan nama.

“Dari unit mana?”

Saya menyebutkan unit kerja. Sepertinya mereka bukan berasal dari Unit HBR Motik.

Setelah berkata ini-itu, mereka mempersilakan saya meneruskan perjalanan.

Keadaan sekitar bertambah gelap. Lampu yang terlihat semakin sedikit. Saya lebih berhati-hati saat melangkah. Masih terdapat lubang yang becek di beberapa titik.

Samar-samar di kiri jalan, saya melihat sesuatu berdiri. Warnanya putih. Semakin dekat, semakin terlihat jelas.

Ah, bodo amat! Kata saya dalam hati. Kalau sosok itu menyerang, saya sudah siap dengan tendangan halilintar.

Beberapa meter kemudian, saya bertemu panitia. Mereka mempersilakan saya untuk duduk menunggu. Rupanya di sana sudah ada rekan-rekan saya yang lain. Di depan saya ada Ustad Endang. Kemudian menyusul di belakang saya Ustad Andi. Kami bertegur sapa sebentar, sebelum akhirnya panitia meminta kami berdiri dan menutup mata.

Ini waktunya kami memasuki hutan. Seperti sebelumnya, kami diminta untuk berjalan sambil memegang pundak kawan yang ada di depan.

Kami bergerak mengikuti arahan panitia. Sesekali langkah kami bertemu semak belukar dan bersentuhan dengan ranting pepohonan.

Saya terus menerka-nerka, seperti apa tempat yang akan kami tempati untuk Solo Bivak nanti.

Di tengah perjalanan, panitia menyuruh Ustad Andi yang ada di belakang saya berhenti, sementara saya dan teman-teman yang ada di depan disuruh untuk terus berjalan.

Tidak lama kemudian, giliran saya yang diberhentikan. Dengan berat hati saya melepas pegangan tangan dari pundak Ustad Endang.

Saya pikir, perjalanan saya sudah selesai. Rupanya tidak. Seorang panitia datang dan menuntun saya ke lokasi lain.

“Silakan buka tutup matanya dan siapkan alas duduknya!” perintahnya sebelum pergi.

Saya membuka penutup mata. Di sekeliling saya gelap. Pepohonan dan semak belukar terlihat samar. Saya menengadah ke atas. Beberapa cahaya bintang berpendar di dekat bulan sabit.

Saya segera membentangkan matras dan menyalakan lilin. Karena rumput yang tumbuh di sekitar saya tebal, saya harus sedikit menggali tanah supaya bisa menegakkan lilin. Setelah lilin menyala, saya menebarkan garam, berjaga-jaga, siapa tahu ada ular yang mendekat.

Saya duduk memandangi lilin. Sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar.
Udara terasa dingin. Suara binatang malam terdengar samar-samar.

Saya terperanjat ketika tiba-tiba ada percikan air mengenai wajah saya. Saya mendongak, meneliti cabang dan ranting di atas sana. Tidak ada apa-apa. Saya sapukan tangan ke wajah dan menciumnya. Baunya asam dan sedikit pesing. Mungkin itu air kencing binatang malam. Bisa jadi kelelawar atau sejenisnya.

Saya membuka tas dan mengeluarkan Al-Quran. Dalam penerangan cahaya lilin, saya mulai menderas ayat-ayat Al-Quran dengan suara lirih.

Waktu berjalan begitu lambat. Saya istirahat sebentar dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di sela waktu membaca Al-Quran, saya berzikir dan bermuhasabah.

Beginilah rasanya kalau kita sendirian, apalagi di tengah hutan, tempat yang asing dan jauh dari keramaian. Siap tidak siap, bahaya bisa datang kapan saja, baik dari makhluk kasat mata maupun dari makhluk tak kasat mata. Hanya kepada Allah kita memasrahkan diri.

Entah pukul berapa saat saya terjaga dari kantuk, meskipun tidak benar-benar tidur. Saya mendengar semak-semak disibak sesuatu. Saya menunggu dengan siaga. Ada peluit yang bisa saya tiup sekencang-kencangnya jika bertemu bahaya.

Saya bangkit dari duduk ketika suara itu semakin dekat. Tiba-tiba sinar lampu senter terlihat di mana-mana disusul suara para panitia.

“Ayo semuanya, siap-siap! Kita akan keluar dari hutan. Silakan bereskan peralatan dan matikan lilinnya!”

Saya menghembuskan napas lega. Akhirnya kegiatan Solo bivak berakhir.

Saya mengemasi barang-barang dan mengikuti langkah para panitia. Sebagian peserta sudah bersama mereka. Saya perkirakan waktu itu pukul empat pagi atau kurang.

Kami keluar dari hutan dan kembali ke pusat kegiatan beramai-ramai.

Palembang, 25 Juni 2023

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button