ESAI
Trending

Kesulitan Adalah Rahim yang Melahirkan Orang-orang Besar

Penulis: Akasia Shabir

Dalam sebuah video reel yang diunggah di media sosial terlihat seorang laki-laki dengan penampilan perlente tengah berbicara di depan sebuah forum yang dihadiri banyak orang. Laki-laki itu berkata dari atas podium,

“Kakek saya berjalan sepanjang 10 mil untuk bekerja setiap harinya. Ayah saya berjalan sepanjang 5 Mil. Sekarang saya mengendarai Cadillac. Anak saya diantar Mercedes. Kemudian ayah saya berkata, ‘cucu saya akan diantar Ferrari dan anak dari cucu saya akan berjalan kembali.’ Jadi saya bertanya kepadanya, ‘Lho, kenapa bisa begitu?’ Dia menjawab, ‘Kesulitan ciptakan orang kuat. Orang kuat ciptakan kemudahan. Kemudahan ciptakan orang lemah. Orang lemah ciptakan kesulitan. Kebanyakan orang tidak paham, kau harus menciptakan kesatria.”

Pelajaran yang bisa saya ambil dari isi video tersebut adalah bahwa orang-orang besar; orang-orang tangguh; orang-orang hebat tidaklah dilahirkan dari kondisi yang serba mudah dan nyaman. Orang-orang besar justru dilahirkan dari kesulitan-kesulitan yang diakrabinya dalam hidup.

Kalau kita baca sejarah para Nabi, hampir semua episode kehidupan mereka diliputi kesulitan.

Bukan setahun dua tahun Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah, kurang lebih 9,5 abad lamanya, akan tetapi banyak dari kaumnya yang tetap ingkar.

Mereka berkata, ‘Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti wahai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam” (QS Asy Syu’ara 116).

Begitu pula dengan Nabi Yusuf. Ujian yang dialaminya bisa dikatakan lengkap. Di sana ada ujian tentang benci & cinta, gejolak syahwat & kesucian, kehinaan & kehormatan, ada dusta & kejujuran, ada penjara & istana, keterpurukan & kejayaan, kedengkian & kemaafan, dan seterusnya.

Belum lagi kisah tentang Nabi Ibrahim dan Muhammad yang memilukan hati.

Akan tetapi, kesulitan-kesulitan itu pada akhirnya mengantarkan mereka menjadi sosok besar dalam sejarah yang kita kenal hari ini.

Peradaban Islam yang mulia tidaklah dibangun kecuali dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, dengan ketaatan dan amal sholeh, serta dengan berserah diri kepada Allah, bukan dengan berleha-leha dan sikap manja. Terbukti manakala umat Islam mulai terlena oleh kemewahan dunia hingga mengabaikan agamanya, peradaban yang tinggi itu perlahan-lahan runtuh.

Shaum Ramadhan yang hari ini tengah kita laksanakan pun bukanlah perintah yang mudah untuk dilaksanakan. Saat Ramadan kita masih dituntut untuk melakukan aktifitas sebagaimana biasanya, seperti bekerja, belajar, berorganisasi, berdakwah, dan lain sebagainya. Di saat bersamaan kebutuhan dasar kita, yakni makan dan minum justru dibatasi. Itu sangat tidak mudah. Tapi disitulah letak nilainya.

Masih ingat dengan perang badar? Peperangan antara kaum muslimin yang berjumlah sekitar 314 orang dengan kafir Quraisy yang berjumlah 950 orang. Dahsyatnya, peperangan tersebut terjadi ketika kaum muslimin dalam keadaan berpuasa.

Beratnya keadaan tidak lantas mejadikan mereka lemah. Karena orang-orang besar tidak pernah alergi dengan kesulitan. Mereka terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Mereka terus berupaya hingga Allah menurunkan ketetapannya. Mereka tidak berhenti, kecuali Allah berkehendak lain.

Terus semangat.

“Kalau kita keras kepada diri sendiri, dunia akan lunak kepada kita. Kalau kita lunak kepada diri sendiri, dunia akan keras kepada kita.” Saya lupa dari mana mendapatkan kata-kata tersebut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button