ESAI

Menghidupkan Literasi

Oleh: Akasia Shabir

Disarikan dari materi “Membangun Budaya Literasi” yang disampaikan Ust. Agus Prityatmono, S.Pd dalam Pelatihan Guru Dan Pegawai Baru SIT Al-Furqon Palembang.

Dalam kamus online Merriam-Webster, dijelaskan bahwa literasi adalah kemampuan atau kualitas melek aksara dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan mengenali serta memahami ide-ide secara visual.

Sedangkan menurut National Institute for Literacy adalah kemampuan seseorang untuk menulis, membaca, berbicara, memecahkan masalah, menghitung pada suatu keterampilan yang dibutuhkan dalam masyarakat dan pekerjaan.

Ust. Agus Prityatmono, S.Pd memberikan materi “Membangun Budaya Literasi” kepada para peserta pelatihan.

Dalam Islam, kegiatan literasi itu sendiri telah ditandai kemunculannya dengan adanya perintah membaca yang tertuang dalam QS. Al Alaq ayat pertama.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Selain itu Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Qolam ayat pertama.

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”

Allah bersumpah dengan pena yang biasa digunakan untuk menulis. Dengan menulis manusia bisa menyebarluaskan kebaikan-kebaikan, seperti nasehat dan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Dengan kata lain, membaca dan menulis memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Dua kegiatan ini dan hal-hal yang berkaitan dengan keduanya seharusnya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang muslim, apapun profesinya. Sebab membaca dan menulis adalah faktor utama terbangunnya sebuah peradaban.

Jika Mesir mewariskan budaya pasca kematian (Piramid dan artefak-artefak kuburan megah peninggalan Firaun) dan Yunani mewariskan kebudayan filsafatnya, maka Islam membangun kebudayaan ilmu, dalam bentuk kebudayaan teks dan pemikiran, yang kemudian menyebabkan Islam berjaya selama 8 abad lebih dan menghasilkan ilmuan muslim yang menjadi rujukan dunia.

Bila menilik sejarah literasi Islam, disebutkan bahwa koleksi Baitul Hikmah di Baghdad–paska penemuan produksi kertas–membeludak menjadi 1 juta buku pada tahun 815. Berpuluh tahun kemudian, pada 891seorang sejarawan mencatat ada lebih dari 100 perpustakaan di kota tersebut. Sedangkan kota kecil semacam najaf punya rumah baca dengan koleksi 40 ribu judul buku.

Pada abad ke-10, Sultan al-Hakim dari Kordoba, Andalusia, punya koleksi pribadi sebanyak 400 ribu buku. Astronom muslim asal persia,
Nashrudin Al-Tusi punya 400 ribu buku. Sultan
al-Aziz dari dinasti Fatimiyah punya 1,6 juta buku, yang
16 ribu dan 18 ribu diantaranya membahas tentang matematika dan filsafat. Belum lagi kegiatan menulis buku yang dilakukan ulama-ulama Islam terdahulu, seperti Imam Al-Ghozali, Imam Ibnu Aqil, Syeikh Ibnu Rusyd Al-Hafid, Imam Ibnu Munzir, Al-Jazih, dan lain sebagainya.

Berkaca dari semua itu rasanya pantas bila peradaban Islam meredup seiring dengan meredupnya budaya literasi di kalangan umat Islam itu sendiri.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button