ESAI
Trending

Berbuat Ihsan

Oleh: Ust. Jusman Fitriansyah, M.Pd

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan) berbuat ihsan atas segala hal. Maka, jika kalian membunuh (dalam peperangan) maka lakukanlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih maka lakukanlah sembelihan yang baik, hendaknya setiap kalian menajamkan parangnya, dan membuat senang hewan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Melalui hadits di atas Allah memerintahkan kita untuk berbuat ihsan atas segala sesuatunya, termasuk kepada hewan sekalipun.

Ihsan berasal dari kata “Hasanu” yang artinya berbuat baik. Sedangkan bentuk masdarnya adalah “Ihsaan” yang berarti kebaikan.

Menurut syara, arti Ihsan, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Umar Bin Khatab ra, bahwa yang dikatakan Ihsan ialah kamu beribadah seakan-akan melihat Allah. Kalau kamu tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.

Pada suatu hari, Umar bin Khattab melakukan perjalanan seorang diri  ke luar kota. Dia ingin melihat langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya.

Umar pun sampai di padang rumput. Dia melihat ada seorang anak yang sedang mengembala kambing-kambingnya. Umar sangat tertarik dengan kambing-kambing yang digembalakan anak itu.  Dia pun menghampiri sang pengembala.

Umar berkata, “Wahai pengembala, banyak sekali kambing-kambingmu.  Bersediakah kamu menjual seekor kambingmu itu kepadaku?”

“Maaf, Tuan,  kambing-kambing ini bukan milikku. Aku hanya pengembala yang bekerja menerima upah saja. Kambing-kambing yang banyak ini adalah milik tuanku,” jawab pengembala itu.

Umar pun terus membujuk pengembala itu untuk menjual kambing-kambing yang digembalakannya. Dia pun berkata, “Wahai pengembala, majikanmu tidak akan tahu jika kamu menjualnya kepadaku seekor saja. Karena tidak ada  orang  yang tahu jika kamu menjual seekor kambing milik majikanmu kepadaku.”

Si pengembala menatap wajah Umar. Dia pun berkata, “Wahai tuan, engkau benar tidak ada satu pun orang yang tahu  jika aku menjual seekor kambing milik majikanku. Tapi, di mana Allah, tuan? Dia selalu melihat apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya.”

Seketika itu Umar bin Khatab meneteskan air mata. Dia sangat kagum dengan kejujuran si pengembala yang tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Sikap Ihsan tumbuh dari keimanan yang tertanam di dalam jiwa, yakni keyakinan terhadap muraqabatullah (pengawasan Allah) dan kesadaran akan ihsanullah (kebaikan-kebaikan Allah).

Seorang manusia yang meyakini dan menyadari muraqabatullah pasti akan berhati-hati dalam setiap gerak langkah hidupnya. Sebab tidak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT.

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” ( QS. Al-Baqarah:284)

Sedangkan seorang manusia yang menyadari hakikat kenikmatan yang dirasakannya berasal dari ihsanullah tentu akan menyatakan rasa syukurnya dengan cara melakukan kebaikan-kebaikan sebagaimana Allah SWT telah melakukan kebaikan kepadanya.

Suatu amal dikatakan Ihsan apabila memenuhi beberapa kriteria berikut:

1. Ikhlasun Niyat (Niat yang Ikhlas)

Maksudnya niatnya bersih dari syirik.

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah:5)

2. Itqonul ‘Amal (Amal yang rapi)

Maksudnya amal yang dikerjakan secara sungguh-sungguh, optimal, dan teliti.

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang diantara kalian mengerjakan suatu pekerjaan dengan rapi.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

3. Jaudatul Adaa’ (Penyelesaian yang baik)

Maksudnya segala pekerjaan itu hendaklah dilakukan hingga tuntas.

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Al-Insyirah:7)

Ada tiga keuntungan ketika kita berbuat ihsan, yakni kecintaan dari Allah SWT, mendapat pahala yang besar, dan mendapat pertolongan dari Allah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button