ESAI
Trending

Belajar Desain Pembelajaran Matematika (SD) Bersama Ustad Firmansyah, S.Pd

Penulis: Akasia Shabir

Saya tidak ingat kapan pastinya saya mulai bermusuhan dengan mata pelajaran Matematika. Bisa jadi sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Meskipun peringkat saya waktu itu tidak pernah keluar dari zona sepuluh besar, tetap saja belajar matematika selalu berhasil membuat saya berkeringat dingin hingga menyebabkan saya bersikap antipati terhadap mata pelajaran tersebut di kemudian hari.

Ust. Firmansyah, S.Pd tengah menyampaikan materi “Desain Pembelajaran Matematika (SD)”

Saya pikir ada tiga faktor yang jadi penyebab mengapa saya tidak bisa akur dengan Matematika.

Pertama, sikap guru matematika yang killer.
Sudah bukan rahasia, apalagi bagi mereka yang bersekolah di bawah era 2000-an, bahwa guru matematika adalah sosok guru yang paling ditakuti banyak siswa. Salah sedikit, suara petir langsung terdengar membahana dari langit. Belum lagi pecutan “penggaris sakti” yang tak segan-segan mendarat di tubuh bila tidak bisa menjawab soal di papan tulis atau tak kunjung mengerti saat diajari. Ditambah lagi dengan tumpukan tugas hitung menghitung yang dibawa pulang ke rumah.

Bisa dikatakan, hanya siswa tertentu saja betah dan mampu berhadapan dengan sosok guru tersebut.

Kedua, metode pembelajarannya.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi, belajar matematika itu tidak asyik. Segala sesuatunya harus hitam putih, serba qath’i, harus hafal rumus-rumus, dan media pembelajarannya sebatas papan tulis, kapur, dan buku. Siswa mendengar penjelasan guru, lalu disuruh untuk menyelesaikan soal.

Ketiga, bisa jadi karena kecerdasan matematis saya tidak lebih baik dibanding kecerdasan saya yang lain.

Zaman itu siswa dianggap pintar kalau dia menguasai pelajaran Matematika, IPA, Kimia, Fisika, dan Bahasa Inggris.

Saya yang tidak begitu cerdas matematis ditambah sikap guru dan metode pembelajarannya yang seperti semakin yakin bahwa matematika itu adalah mata pelajaran yang sulit ditaklukkan.

Dan hari ini, Selasa 7 Maret 2023, saya bersinggungan kembali dengan Matematika. Bukan belajar materinya, melainkan belajar tentang bagaimana merancang pembelajaran Matematika agar mudah dan terasa menyenangkan bagi siswa, khususnya siswa sekolah dasar.

Saya ingin bila “Gila”, tapi itu kata yang tidak boleh dikatakan. Haha.

Matematika itu sulit!

“Matematika itu tidak sulit. Yang bikin dia terasa sulit, yakni pikiran kita.” Begitu yang dikatakan Ust. Firmansyah, S.Pd selaku pemateri pada kegiatan Pelatihan Guru dan Pegawai Baru SIT Asrama Al-Furqon Palembang, sekaligus guru Matematika SD IT Al-Furqon Palembang.

“Kalau di awal kita sudah berpikir Matematika sulit, ya, jadi sulit beneran. Faktanya masih ada mapel yang lebih sulit dari matematika. Misal mapel sejarah,” imbuhnya.

Selanjutnya Beliau mulai memaparkan materi tentang Desain Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Kami menyimak baik-baik sambil sesekali mengikuti game yang beliau berikan.

Jadi, model pembelajaran (MDP) dalam pembelajaran Matematika adalah rancangan pembelajaran Matematika yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik demi tercapainya tujuan pembelajaran. Desain pembelajaran Matematika ini dibuat untuk memaksimalkan metode yang digunakan agar tujuan dari metode yang dipakai tercapai dan siswa mencapai ketuntasan dalam belajar, khususnya dalam belajar Matematika.

Selanjutnya kita mesti mengetahui ciri-ciri pembelajaran Matematika di SD.

1. Pembelajaran Matematika Menggunakan Metode spiral.

Pendekatan spiral dalam pembelajaran Matematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran konsep atau suatu topik Matematika selalu mengaitkan atau menghubungkan dengan topik sebelumnya.

2. Pembelajaran Matematika Bertahap

Materi pelajaran Matematika diajarkan secara bertahap, yaitu dimulai dari konsep-konsep yang sederhana menuju konsep yang lebih sulit. Selain itu pembelajaran Matematika dimulai dari yang konkret ke semi konkret, dan akhirnya kepada semi abstrak.

3. Pembelajaran Matematika menggunakan metode induktif.

Matematika merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif.

Contoh : Pengenalan bangun-bangun ruang tidak dimulai dari definisi, tetapi dimulai dengan memperhatikan contoh-contoh dari bangun tersebut dan mengenal namanya. Menentukan sifat-sifat yang terdapat pada bangun ruang tersebut sehingga didapat pemahaman konsep bangun-bangun ruang itu.

4. Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan bertahap

Pembelajaran secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian daripada hafalan. Dalam belajar bermakna aturan aturan, sifat-sifat, dan dalil-dalil tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya aturan-aturan, sifat-sifat, dan dalil-dalil ditemukan oleh siswa melalui contoh-contoh secara induktif di SD, kemudian dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya.

Konsep-konsep matematika di SD tidak dapat diajarkan melalui definisi, tetapi melalui contoh-contoh yang relevan. Guru hendaknya dapat membantu pemahaman suatu konsep dengan pemberian contoh-contoh yang dapat diterima kebenarannya secara intuitif.

Artinya siswa dapat menerima kebenaran itu dengan pemikiran yang sejalan dengan pengalaman yang sudah dimilikinya. Pembelajaran suatu konsep perlu memperhatikan proses terbentuknya konsep tersebut.

Kurang lebih seperti itu ciri-ciri pembelajaran Matematika di SD. Semoga bermanfaat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button