ESAI
Trending

Ma’iyyatullah

Disarikan dari materi “Ma’iyyatullah” yang disampaikan Ust. Sunyoto, S.Pd pada “Pelatihan Guru dan Pegawai Baru SIT Al-Furqon Palembang, Jumat 3 Maret 2023.

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Mujadilah, 58: 7).

Allah senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Dia mengetahui segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan oleh kita. Tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah SWT, baik yang di langit maupun yang di bumi. Inilah yang dinamakan Ma’iyyatullah, yakni kebersamaan Allah dengan Makhluknya.

Sesungguhnya tidak ada lagi tempat untuk kita bersembunyi dan Allah akan memperhitungkan segala sesuatu yang telah kita lakukan.

Akan tetapi, seiring dengan pengawasan, Allah juga memberikan kebaikan-kebaikan kepada seluruh makhluknya tanpa terkecuali. Ini disebut Ma’iyyatul Ammah.

Allah memberikan kebaikan (nikmat) kepada mereka yang ingkar, seperti udara, cahaya matahari, air, pengetahuan, makanan, dan kesenangan dunia, tetapi tidak menjamin keselamatan mereka di akhirat disebabkan keingkaran tersebut.

Begitu pula kepada orang-orang beriman, Allah memberikan kebaikan kepada mereka berupa pertolongan (dukungan), baik di dunia maupun di akhirat. Ini disebut Ma’iyyatul Khasah.

Ada sebuah kisah menarik yang terjadi di zaman Khalifa Umar bin Khattab.

Pada suatu malam yang telah larut, ketika para penduduk Madinah telah berangkat istirahat untuk melepas lelah, terjadilah percakapan antara seorang ibu dengan anak perempuannya. Mereka adalah penjual susu yang biasa menjual susu di pasar. Saat percakapan tersebut berlangsung, Khalifah Umar bin Khatab yang tengah berkeliling, tiba di rumah mereka dan mendengarkan apa yang mereka percakapkan.

“Nak, campur saja susu itu dengan air!” perintah sang ibu.

“Tidak boleh, Bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air,” jawab anak gadisnya.

“Tetapi semua orang melakukan hal itu, Nak. Campur sajalah! Toh, Amirul Mukminin tidak melihat apa yang kita lakukan.”

“Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Tuhannya Amirul Mukminin pasti mengetahui!” jawab putrinya itu.

Umar bin Khathab yang menyimak percakapan mereka, berlinang air mata demi menyaksikan ada seorang wanita yang demikian tinggi keimanannya kepada Allah.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita mengenai keterjagaan diri yang disebabkan kedalaman pengetahuan akan pengawasan Allah SWT sehingga mencegahnya untuk melakukan tindakan yang dilarang agama.

Pemahaman akan ma’iyyatullah ini pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada dua hal, yaitu meningkatnya iman dan takwa dan pengabdian kepada Allah.

Ketika kita sudah bertakwa dan mengabdi kepada Allah, maka Allah akan senantiasa memberikan pertolongan, keberkahan, kehidupan yang baik, diteguhkan agamanya, dan memperoleh surganya Allah SWT.

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 40)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak meminta pindah ke tempat yang lain.” (QS. Al-Kahfi: 107-108)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button