INSPIRASI
Trending

Jangan Patah, Reena!

Cerpen

Penulis: Akasia Shabir

*Cerita ini hanya fiksi

Di dalam WC sekolah yang terkunci, Reena menggenggam pisau cutter dengan tangan gemetar. Matanya yang merah dan sembab sehabis menangis menatap nanar pergelangan tangan kirinya.

Ditariknya napas satu persatu dengan berat hingga membuat bibir siswi kelas 8 SMP IT Al-Furqon itu menggigil. Dadanya terasa begitu sesak. Kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu.

Dia ingin mati. Rasanya tidak ada gunanya dia hidup. Ada begitu banyak rasa sakit yang harus ditanggungnya. Rasa sakit yang telah mengakrabinya selama bertahun-tahun.

Dia begitu benci kepada Ayahnya. Laki-laki itu selalu saja mengulang perkataan yang sama hampir setiap saat.

“Ingat pesan Ayah, Reena! Sebelum melakukan sesuatu kamu pikirkan baik-baik tiga hal ini. Pertama, apakah yang akan kamu lakukan itu tidak akan membuat malu. Kedua, apakah yang akan kamu lakukan itu tidak merugikan siapapun. Ketiga, apakah yang akan kamu lakukan itu bermanfaat atau tidak buat kamu. Kalau sekiranya akan membuatmu malu, merugikan, dan tidak bermanfaat, jangan lakukan!”

Begitu yang sering dikatakan ayahnya pada setiap kesempatan dan itu berlangsung semenjak Reena duduk di bangku sekolah dasar hingga sebesar sekarang. Belum lagi larangan-larangan lain yang membuat Reena merasa begitu dikekang dan tidak dipercaya. Bahkan untuk urusan smartphone pun terasa rumit dan menjengkelkan.

Hampir setiap hari ayahnya memeriksa ponsel miliknya. Membuka chat, galeri, aplikasi, dan menceramahinya panjang lebar ketika menemukan hal-hal yang menurut ayahnya tabu. Kemudian hal paling buruk pun terjadi. Ayahnya membatasinya dalam menggunakan ponsel, termasuk soal pengisian kuota internet.

Ayahnya tidak pernah mau tahu. Dia tidak peduli dengan apa yang diinginkan Reena. Baginya hanya ada hitam dan putih. Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Harus begini, harus begitu.

“Semua demi kebaikanmu, Reena. Ayah tidak tidak ingin kamu terkontaminasi hal-hal buruk.”

Reena meradang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam dan menyimpan semua kemarahannya di dalam hati. Itu berlangsung selama bertahun-tahun.

Ada kalanya Reena tidak kuat. Dia kerap menangis sendirian ketika kesedihan tiba-tiba menggerogoti perasaannya. Dia mencabik-cabik boneka miliknya manakala kemarahan membakar dadanya. Dia melarikan diri pada segala sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik, termasuk merokok.

Bukan sekali dua kali Reena melakukannya. Saat jam pelajaran berlangsung, Reena kerap berpura-pura pergi ke WC, terutama ketika pikirannya sedang kalut. Secara diam-diam dia menuju tempat rahasia. Di sana dia menghabiskan sebatang rokok tanpa seorang pun tahu. Kemudian kembali ke kelas setelah menghilangkan jejak.

Reena terus melarikan diri. Lebih tepatnya melawan. Meski dia sendiri tidak benar-benar mengerti siapa yang sebenarnya sedang dilawannya. Ayahnya? Orang-orang yang tidak peduli padanya? Atau … dirinya yang lemah?

Puncaknya satu hari yang lalu ketika dia memergoki Ray, cowoknya, saling berpegangan mesra dengan Sely, sahabatnya sendiri, di suatu tempat sepulang sekolah.

Hatinya hancur lebur mengetahui kenyataan Ray mengkhianatinya. Cowok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah, tempatnya melabuhkan segala gundah, tempat segala rahasianya dititipkan, tanpa perasaan meremukkan hatinya.

Ray dan Sely. Ternyata selama ini bermain hati. Reena tak habis pikir bagaimana mereka bisa setega itu kepadanya.

Semalaman Reena menangis di kamarnya hingga matanya bengkak. Dia juga tidak makan semenjak memasuki rumah.

Sebenarnya Reena tidak ingin berangkat sekolah keesokan paginya. Tapi rasa takut bila ayahnya marah memaksanya untuk tetap pergi.

Di sekolah Reena hanya diam sepanjang hari. Dia lebih sering menyendiri dan menangis diam-diam. Hingga akhirnya dia ada di sini sekarang, mengunci diri di dalam WC sekolah, memegang cutter, dan bersiap mengiris lengannya.

Dia ingin mati. Rasanya tak ada gunanya dia hidup.

Tangisannya kembali pecah. Genggaman tangannya semakin erat.

Reena menempelkan mata cutter ke pergelangan tangannya. Perlahan dia mengiriskan pisau tersebut. Tipis saja. Cairan merah mulai bertimbulan. Reena meringis.

Di luar WC terdengar riuh. Bunda Mila–wali kelas Reena–menggedor-gedor pintu WC dengan panik. Dia memanggil-manggil Rena dan membujuknya untuk keluar. Para siswi dan beberapa bunda yang berada di tempat tersebut terlihat cemas.

Bunda Mila terus membujuk Reena. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Pintu WC dikunci Reena dari dalam.

Di tengah kepanikan, datang Ustad Ahsan dan beberapa ustad lainnya dengan langkah gegas. Mereka berusaha mendobrak pintu WC. Setelah usaha yang kesekian kalinya, barulah pintu WC berhasil dibuka. Bagian pinggirnya hancur.

Begitu pintu WC terbuka, Bunda Mila segera menyerbu ke dalam dan keluar sambil memapah Reena yang tangannya telah berlumuran darah.

Para siswi yang bertubuh lebih besar tidak tinggal diam. Mereka ikut membantu memapah Reena. Mereka membawa Reena ke UKS.

***

“Apa Reena gak punya hak untuk nentuin hidup sendiri, Bun? Mengapa orang dewasa begitu egois? Mengapa orang-orang begitu jahat?” Dengan suara serak dan sorot mata terluka Reena berkata di depan Bunda Mila.

Setelah satu jam dirawat dan beristirahat, Reena dan Bunda Mila bertemu di ruangan khusus. Siswa siswi yang lain sudah kembali belajar di kelas.

Tidak mudah bagi Bunda Mila untuk membuat Reena bicara. Butuh waktu sedikit lama hingga siswi itu bersedia terbuka.

Reena menceritakan semuanya sambil sesekali terisak. Tentang hidupnya, tentang sikap ayahnya, tentang perasaan-perasaannya yang selama ini terpendam, hingga kejadian yang baru saja terjadi.

Bunda Mila menatap Reena penuh prihatin. Hatinya ikut pedih. Beberapa kali Bunda Mila menghela napas.

Selama ini yang Bunda Mila tahu, Reena anak yang cerdas secara akademik, meskipun terkesan lebih tertutup dibanding siswi yang lain. Tetapi dia tidak menyangka sama sekali kalau Reena memiliki luka batin yang parah.

Pantas saja akhir-akhir ini Reena terlihat berbeda. Wajahnya lebih sering terlihat kusut. Semangat belajarnya juga menurun drastis. Dipikirnya mungkin Reena hanya sedang tidak enak badan, mengingat cuaca yang tidak menentu dan beberapa siswa yang jatuh sakit.

“Kalau sudah begini, gimana Reena harus menjalani hidup, Bun?” Reena berkata lirih. Wajahnya menunduk.

Bunda Mila meraih telapak tangan Reena, menggenggamnya erat, mencoba menguatkan meskipun dadanya sendiri terasa sesak.

“Gak salah kan, Bun, kalau Reena mati? Hidup juga percuma kalau seperti ini.”

Bunda Mila segera merangkul Reena. Dielusnya kepala siswi itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Air matanya menitik.

“Kamu yang tenang, ya, Ree … semua akan baik-baik saja. Kamu tahu kan? Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya.”

Reena terdiam.

“Saat kita tidak berhasil mendapatkan satu cinta … masih banyak cinta lain yang bisa kita temukan. Percayalah, Ree … kamu tidak sendirian. Ada bunda-bunda di sini yang selalu siap membantu kamu.”

“Tapi, Reena baru saja melakukan tindakan bodoh, Bun ….” Rena akhirnya bersuara.

Bunda Mila menarik napas. Matanya memandang jauh ke depan.

“Setiap orang punya kesempatan untuk terjatuh, Ree. Dan setiap orang juga selalu punya kesempatan untuk bangun kembali. Semua ini hanya soal pilihan. Bunda berharap kamu memilih yang terbaik. Kami akan bicarakan masalah ini dengan kedua orang tuamu. Semua akan baik-baik saja.”

Reena menyeka air matanya. Terasa ada beban berat yang tercerabut dari hatinya.

Azan ashar berkumandang. Jam dinding menunjukan pukul 15. 25. SMP IT Al-Furqon kembali riuh. Siswa dan siswi keluar dari kelas, bersiap melaksanakan sholat ashar untuk kemudian pulang, kecuali mereka yang mengikuti eskul.

Palembang, 2023.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button