ESAI

Desain Tahfiz

Materi Desain Tahfiz ini disampaikan oleh ustad Fikri Iriawan S. Kom Al-hafidz pada Pelatihan Guru dan Pegawai Baru SIT Al-Furqon Palembang, Kamis 2 Maret 2023.

Menurut Oemar Hamalik (1993) desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam melalui dan melaksanakan kegiatan. Sedangkan tahfidz adalah menghafal, menjaga atau mengulang-ulang hafalan.

Tujuan dibuatnya Desain Tahfiz itu sendiri, yaitu:

1. Mendesain suatu objek, sistem, komponen atau struktur yg bermanfaat.

2. Menyampaikan ide/gagasan

3. Mendeskripsikan objek-objek tertentu sebelum mewujud.

4. Mengetahui akan kemampuan, kondisi dan kebutuhan.

Ketika sebuah sekolah telah memiliki desain tahfiz yang ideal sesuai kondisi dan kebutuhan, diharapkan program tersebut mampu menjadi brand atau ciri khas sekolah, menjadi ruhnya sekolah, dan terbentuknya mindset bahwa Al-Quran itu mudah dihafal.

Menurut ustad Fikri Iriawan, S.Kom, hal yang tidak kala penting dari sebuah desain pembelajaran tahfidz sendiri ialah adanya guru yang kompeten, baik secara Mufid maupun Naasih.

Mufid artinya memiliki kapasitas ilmu di bidangnya, dalam hal ini Ilmu Al-Qur’an. Sedangkan Naasih artinya memiliki dua sifat yang terkumpul padanya.

Sifat pertama, guru dapat menjadi teladan dalam perilaku, akhlak, serta Budi pekerti. Sifat kedua, guru mampu mengetahui kemampuan murid yang akan diajarnya, mengetahui metode atau kurikulum seperti apa yang cocok untuk sang murid, serta mengetahui mana ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat untuk muridnya.

Sementara dari segi kurikulum ada beberapa poin penting yang mesti diperhatikan.

1. Pendekatan Program

Menciptakan para penghafal Al-Quran bisa dilakukan dengan beberapa cara atau program, seperti Boarding Tahfiz (Pesantren Tahfiz), Semi Boarding (Sekolah + Rumah Tahfiz), Reguler + Extra Tahfiz, Reguler + Kelas Tahfiz, Reguler + Program Tahfiz Terjadwal, Reguler + Setoran Tahfiz.

2. Pendekatan Pembelajaran

a. Individual-Mandiri

Siswa menghafal sendiri-sendiri sesuai kemampuan, kemudian menyetorkan hafalan. Waktu menghafalnya bisa terjadwal, bisa tidak (bebas).

b. Klasikal-Terjadwal

Secara terjadwal, siswa menghafal bersama-sama ayat dalam kelompok ayat-ayat yang sudah ditentukan (sama).

3. Materi/Target

a. Target hafalan mengikuti kurikulum internal sekolah (JSIT)

b. Target harus terpenuhi dalam waktu 6 tahun (SD) dan 3 tahun untuk tingkat SMP/SMA.

c. Target harus terperinci persemester dan pertahunnya.

d. Target harus logis dengan memiliki kualitas minimal.

4. Manejemen Waktu

a. Ada waktu untuk menghafal.
b. Ada waktu untuk muroja’ah.
c. Ada waktu untuk setoran hafalan.
d. Ada waktu untuk imtihan.
e. Ada waktu untuk Haflah
Akhirusannah/Wisuda.

Semua harus dilakukan secara terjadwal.

5. Metode

Imam Bukhori berkata, “Saya tidak menemukan cara menghafal lebih efektif selain dengan cara melihat terus menerus tulisan dan mengulang-ulang bacaan, karena itulah sejatinya menghafal.”

Namun, setidaknya ada beberapa metode yang bisa kita lakukan untuk mempermudah siswa dalam menghafal Al-Quran.

a. Talaqqi
b. Binnazor
c. Wahdah
d. Takrir
e. Kitabah
f. Sima’i
g. Muroja’ah

6. Aspek Keberhasilan

Berikut aspek-aspek yang bisa membantu keberhasilan program Tahfiz di sekolah.

a. Komitmen kuat dari pengelola sekolah.

b. Target yang menantang (dengan melihat kompetitor dan ekspektasi masyarakat) dan mengikat.

c. Alokasi waktu yang cukup.

d. Pengkondisian suasana yang kental.

e. Pemilihan pendekatan, metode, dan mushaf yang tepat.

f. Pemantauan yang intensif dan ketat.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button