INSPIRASI

Rencana

Cerita Pendek

Oleh : Akasia Shabir

Siang belum sampai pada puncaknya, masih jauh dari angka 12. Lapangan futsal dan basket Asrama SIT Al-Furqon Palembang masih dikerubuti para santri. Mereka mengisi sabtu pagi dengan kegiatan ekstrakurikuler maupun sekedar olahraga ringan. Sebagiannya duduk-duduk di area taman dan halaman parkir. Ada juga yang hilir mudik tanpa tujuan. Bisa jadi karena galau, bingung, atau … linglung?

Ketika banyak santri menghabiskan waktu pagi dengan beraktifitas di luar kamar, Abad, Abid, dan Abud justru terpojok di koridor asrama yang sepi. Tiga sekawan itu terlihat suntuk. Wajah mereka jengah. Perasaan bosan sepertinya enggan lari dari kehidupan mereka. Mulai dari aktifitas belajar sampai kegiatan ekstrakurikuler selalu dilumuri perasaan bosan. Tidak heran kalau mereka sering terlihat tidak antusias dalam mengikuti berbagai kegiatan tersebut. Tidak heran juga kalau mereka sering menghilang di jam-jam tertentu. Saat dilakukan pencarian, para guru kerap menemukan mereka di tempat-tempat yang tidak terduga.

“Haduh … bosan nih … enaknya ngapain, ya?” ujar Abid memecah kesunyian.

“Kita ke kantin aja, yuk!” timpal Abad. Wajahnya terlihat lebih cerah.

“Gak, ah! ngapain ke kantin? Di sana gak ada apa-apa. Paling itu-itu aja. Gak asyik!” Muka Abid makin ditekuk.

“Trus, kita ngapain, dong? Masak melongo kayak sapi ompong terus?” Kali ini Abud ikut bersuara.

Abid berpikir sejenak, lalu berseru,

“Kita ke warung Uwak aja, yuk!”

“Ogah, ah! Entar ketahuan ustad bisa celaka kita.” sahut Abad.

“Makanya perginya diem-diem biar gak ketahuan.”

“Tetep aja percuma. Di depan kan ramai orang, mana bisa kita sembunyi-sembunyi?”

“Justru itu, Bad. Itu situasi yang menguntungkan buat kita. Apalagi kalau banyak santri yang izin ke mini market. Kita bisa diem-diem nyelip di antara mereka. Begitu ustad yang piket lengah, kita belok ke lain arah.”

“Boleh juga. Ide bagus, tuh!” Abud manggut-manggut.

“Gimana, Bad? Mau ikut gak?”

Tanpa mereka sadari, diam-diam Ustad Rizal menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar.

“Gimana?” tanya Abid sekali lagi.

“Gimana, ya …?”

“Ah, kelamaan mikir! Ikut ajalah, cepetan!” Abid bangkit dari duduk dan meraih lengan Abad. Abud ikut bangkit dan berjalan di belakang mereka.

Ustad Rizal segera berdehem begitu ketiganya melewati pintu tempatnya mencuri dengar.

“Mau ke mana kalian?” seru Ustad Rizal dengan tenang.

Abad, Abid, dan Abud terperanjat. Mereka segera berbalik menghadap Ustad Rizal.

“A-anu, Tad, kami … kami …,” Abad menjawab terbata-bata.

“Kami mau ke lapangan, Tad, main futsal!” sambung Abid dengan was-was.

“Iya, Tad, kami mau main futsal,” timpal Abud.

“Tumben. Biasanya juga ngilang gak jelas.”

“Sesekali, Tad, masak jadi santri males terus. Iya kan, Bud?” Abid berusaha tersenyum sambil melirik Abud.

“Oh, gitu? Bener, nih?” Ustad Rizal masih santai. Mau berbohong seperti apapun, dia sudah tahu kenyataannya.

“Bener, Tad. Masak Ustad gak percaya.”

Ustad Rizal memasang tampang tegas dan berkata,

“Udah, jangan banyak alasan! Ikut Ustad sekarang!”

Mau tak mau ketiganya mengikuti langkah Ustad Rizal ke dalam kamar. Hati ketiganya resah sekaligus dongkol.

Ketahuan lagi, deh!

*Cerita ini hanya fiksi

Palembang, 2023

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button