INSPIRASI
Trending

Kekesalan Anina

Cerita Pendek

Oleh: Akasia Shabir

“Sial!”

Anina menggebrak meja. Rasa kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun. Lebih dari satu jam dia duduk di depan laptop, namun usahanya menulis cerita tak kunjung membuahkan hasil. Padahal ini hari terakhir pengumpulan tugas menulis cerita dari grup literasi di media sosial yang diikutinya. Dia ingin tugas tersebut selesai sebelum menginjak deadline. Kalau tidak, reputasinya sebagai anggota paling produktif jadi tercoreng. Anina tidak ingin mimpi buruk itu terjadi.

Gadis yang masih berstatus sebagai pelajar di MAN 3 Palembang itu kembali menggebrak meja. Laptop di atasnya ikut bergetar.

Gadis itu mengusap-usap wajahnya cemas. Dia merasa seperti kehilangan kemampuan meramu kata-kata. Setiap kata-kata yang sudah dirangkainya itu selalu dihapusnya kembali. Dia merasa kata-kata tersebut tidak memiliki jiwa, hambar, dan tidak bertenaga. Dia tidak rela jika harus membuat karya yang tidak berbobot. Itu akan menurunkan kredibilitasnya. Selama ini semua cerita yang dibuatnya selalu mendapat pujian dari para pembaca. Bahkan dia sering mendapat juara pertama dalam lomba menulis yang diikutinya.

Banyak teman-teman medsosnya yang bilang kalau Anina adalah penulis berbakat. Tulisannya khas, diksinya indah, pesannya kuat, dan yang terpenting alur serta konflik cerita yang dibuatnya mampu mengaduk-aduk emosi pembaca.

Jadi, bagaimana mungkin dia akan dengan senang hati meruntuhkan semua pandangan itu?

Anina bangkit. Dia menyepak kursi yang didudukinya ke belakang. Kursi itu terguling. Anina tidak peduli. Dia berjalan ke dapur seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

Anina mencari-cari sesuatu di filling kabinet.

“Bodoh! Tentu saja tidak ada!” rutuk Anina setelah lama berkutat di sana.

Dengan perasaan dongkol, Anina menghampiri kulkas, membuka penutupnya, dan melongok ke dalam. Udara dingin segera menyergap kulit wajahnya.

“Tuh, ‘kan!” ujarnya ketika mendapati barang-barang yang dicarinya ada di dalam kulkas. Rasa kesal sepertinya telah membuatnya tak mampu berpikir jernih.

Anina mengeluarkan cetakan es dadu, sebotol minuman bersoda, dan satu kantong kresek berisi apel. Dia juga mengambil pisau yang akan digunakannya untuk memotong apel.

Anina kembali ke kamar dan meletakkan barang-barang tersebut di dekat laptop. Saat berbalik, tatapannya terkunci pada kursi yang tadi disepaknya. Dia geleng-geleng kepala, menyadari tindakan konyolnya.

Anina mengembalikan kursi tersebut ke posisi semula dengan tangkas, lalu duduk di atasnya. Tidak lama, dia menepuk kening, teringat sesuatu.

Anina buru-buru ke dapur dan kembali dengan membawa gelas kosong.

Saat hendak memutar botol minuman bersoda, tiba-tiba ….

“Andai kau izinkan … walau sekejap memandang … kubuktikan kepadamu … aku memiliki rasa ….” terdengar alunan tembang diiringi gitar dari luar kamar Anina.

Tidak sulit bagi gadis itu untuk segera mengetahui siapa pemilik suara yang membawakan lagu Iwan Fals tersebut. Suara berat itu milik cowok bernama Dank, teman sekelasnya.

Rasa kesal yang sempat mereda kini kembali meledak. Anina bergegas membuka jendela kamarnya.

“Dank!” teriaknya.

Mendengar namanya dipanggil, Dank berhenti memetik gitar. Dia menoleh.

“Anina ….” Cowok itu cengar cengir mendapati gadis yang ditaksirnya menampakkan diri. Hatinya berdegup kencang. Perasaannya gugup.

Dia memang merencanakan semua itu: Mengungkapkan isi hatinya kepada Anina melalui lagu, tepat di samping kamar Anina.

“Ngapain kamu di situ?” Anina menatap Dank setajam silet.

“Ny-nyanyi … memang a-apa lagi?” Dank makin gugup.

“Maksudku, untuk apa dan untuk siapa?” Nada bicara Anina semakin tajam.

“U-untuk ….”

“Untuk apa?” semprot Anina, tidak memberi kesempatan cowok itu meyelesaikan bicaranya. Hatinya sudah kadung kesal.

“A-anu … aku cuma mau bilang, a-aku ….”

“Tidak perlu!” potong Anina. Dia tahu ke mana arah pembicaraan Dank. Cowok itu dari dulu memang tidak pernah berhenti mengharapkannya. Tidak di sekolah, tidak di rumah, tidak di jalan, cowok itu selalu berusaha mendapatkan hatinya.

“Eh, kenapa?” tanya Dank dengan polosnya.

“Karena aku tidak mau mendengarnya!” Bom molotov–tanda kutip–sudah di ubun-ubun. Anina siap meledak.

“Kenapa tidak mau?”

“Banyak tanya!” Bom itu akhirnya meledak juga.

“Besok ada ulangan. Memangnya kamu sudah belajar? Kok, hidup kamu bisa sesantai itu, sih?” Itu ledakan yang kedua.

“A-anu, soal belajar sih … nanti malam juga bisa, kan? Atau besok pagi?”

“Dengar, ya, Dank …!” Itu ledakan yang ketiga.

“Anak muda yang hebat itu tidak pernah meremehkan sesuatu yang berguna untuk masa depannya. Kamu boleh saja jago nyanyi, pintar olah raga, handal bela diri, dan lain sebagainya. Tapi, ingat, kamu tetap saja tidak boleh melalaikan kewajibanmu sebagai seorang pelajar. Sekarang kamu pilih ….” Anina membungkuk. Dia meraih sandal rumah yang dikenakannya dan mengacungkannya ke arah Dank.

“Pergi dari sini atau kulempar pakai ini?” Anina mengancam. Sorot matanya sudah seperti banteng paling brutal.

Dank mengkerut. Dipeluknya gitar kesayangannya erat-erat. Dia paham betul, Anina tidak suka main-main. Kalau bilang “A”, ya “A” Kalau bilang “B”, ya “B”. Tidak bisa ditawar.

“Kenapa diam saja? Mau kulempar, hah?” teriak Anina.

Tanpa menunggu diteriaki dua kali, Dank langsung lari pontang panting. Gitar di tangannya berayun-ayun. Gitar itu terlihat gamang, segamang perasaan Dank.

Anina memang galak. Dank tahu itu. Sama tahunya bahwa seluruh jari manusia normal berjumlah sepuluh. Tetapi Dank tidak ingin menyerah. Seperti halnya lagu yang tadi dinyanyikannya, Dank ingin membuktikan bahwa perasaannya kepada Anina itu sungguh-sungguh. Disamping itu, karakter Anina yang seperti petasan itulah yang membuat Dank tak bisa berhenti mencintainya.

Anina menghempaskan pantatnya ke kursi dan mencoba mengatur napasnya. Rasanya lengkap sudah penderitaannya hari itu. Tulisan yang tidak kunjung selesai, diganggu “orang gila”, serta ulangan esok hari yang harus dipersiapkannya sebaik mungkin.

Anina meraih botol minuman bersoda di depannya. Terdengar suara berdesis saat tutup botol dibuka. Dengan hati-hati Anina menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas yang sudah berisi potongan es berbentuk dadu. Saat cairan coklat kemerah-merahan itu menyentuh dasar gelas, buih-buih putih bertimbulan, lalu menghilang dengan cepat.

Anina meneguk cairan itu tanpa terburu-buru. Dikecapnya cairan manis itu di mulut sebelum akhirnya turun melalui kerongkongan ke perut. Sensasi dingin menjalar ke hampir seluruh bagian tubuhnya.

Anina menghembuskan napas lega begitu menyudahi tegukan pertama. Begitu pula dengan tegukan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Anina duduk menghadap jendela masih terbuka. Angin bertiup sepoi-sepoi, mengusap lembut jilbab yang dikenakannya. Aroma bunga melati yang ditanam di pekarangan rumah hinggap di hidungnya yang mancung. Anina menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Dia mengupas apel, memotongnya kecil-kecil, lalu mengunyahnya perlahan. Anina meneguk minuman bersoda di antara suapannya.

Anina terlihat begitu santai. Dia tidak lagi memikirkan cerita yang harus dibuatnya. Segala sesuatu harus dipikirkan dengan tenang dan tanpa beban. Dengan begitu dia yakin akan dengan mudah untuk mengalirkan kata-kata saat menulis. Dia juga tidak perlu memikirkan soal Dank. Akan ada masanya cowok itu berhenti mengejarnya. Selama dia terus bersikap dingin dan galak kepadanya.

Sebetulnya Anina tidak membenci Dank, sebab cowok itu memang tidak selayaknya untuk dibenci. Dia hanya tidak suka kepada sesuatu yang datang bukan pada waktunya.

Palembang, 2023

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button