ESAI
Trending

Setiap Kita Berharga

Penulis: Akasia Shabir

Ketika seseorang memilih untuk lebih banyak diam, bisa jadi karena ada banyak pembicaraan yang selalu berujung percuma baginya.

Saya pernah berada di posisi itu, ketika suara-suara dari mulut ini tidak didengar, ketika pendapat yang saya lontarkan hanya jadi angin lalu, ketika keberadaan diri hanya sebatas wayang semata.

Saya tidak marah dan kecewa kepada siapapun kecuali kepada diri saya sendiri.

Betapa menjengkelkan menjadi pribadi yang tidak pantas didengar itu.

Betapa memalukan menjadi pribadi yang tidak layak diikuti itu.

Betapa menggelisahkan menjadi pribadi yang tak mampu meyakinkan orang lain itu.

Dan masih banyak betapa-betapa yang tidak mengenakkan lainnya yang saya rasakan.

Kemudian saya memilih diam, tidak banyak berkata-kata. Saya menjalani hidup tanpa gairah dan melakukan pekerjaan sebatas memenuhi kewajiban. Hingga akhirnya saya tiba di sebuah sudut kecil dalam pikiran saya.

Dari sudut kecil itu saya memandang ulang semuanya. Saya mencoba membuat kembali rekontruksi berpikir saya dalam memaknai segala sesuatu, terutama tentang diri, orang lain, pekerjaan, kehidupan, apa yang penting dan tidak penting untuk saya, apa yang saya butuhkan dan tidak saya butuhkan, mana yang subtansial dan mana yang bukan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dipandang rendah itu tidak masalah. Tidak dihargai itu bukan persoalan besar.

Satu hal yang perlu kita yakini dan lakukan:

Tidak ada yang benar-benar memahami kita selain diri kita dan Allah. Kita berharga, bahkan sangat berharga.

Sebagai apapun, berikan yang terbaik. Hanya kepada Allah-lah kita mengharap balasan dari setiap amal-amal yang kita lakukan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button