ESAI
Trending

Menghibur Diri Sebagai Upaya Membangun Mental Positif

Penulis: Akasia Shabir

Menghibur diri sendiri merupakan keterampilan penting yang harus kita miliki. Selain mampu menjaga kewarasan dan semangat hidup, keterampilan ini juga memungkinkan kita tidak terlalu bergantung kepada orang lain. Sebab dalam kondisi tertentu, tidak semua orang mau dan mampu melakukannya untuk kita.

Menghibur diri sendiri bukan berarti membuat kita lari dari kenyataan pahit tanpa solusi, melainkan lebih kepada mengedepankan pikiran positif atas setiap kondisi tidak menguntungkan yang kita hadapi, sehingga kondisi tersebut tidak mengantarkan kita kepada kekecewaan, putus asa, luka hati, dan sikap negatif lainnya.

Menghibur diri sendiri jangan pula diartikan sebagai upaya mencari alasan atas gagalnya seseorang dalam meraih sesuatu. Menghibur diri adalah upaya memberi jeda kepada diri sendiri untuk melihat ulang hal-hal yang menjadi penyebab kepahitan tersebut dengan jelas dan menjadikannya pelajaran agar tidak terulang di kemudian hari.

Ini bagian dari upaya membangun mental positif, sebagaimana yang senantiasa diserukan Islam kepada pemeluknya.

Dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.”

Kesabaran tidak dibangun semudah membalikkan telapak tangan, terlebih bila masalah yang dihadapi terlampau berat untuk ukuran kebanyakan orang.

Kesabaran lahir dari proses yang tidak main-main. Ia melibatkan pengetahuan yang benar dan keinginan kuat untuk memperoleh kebaikan. Tanpa keduanya, mustahil lahir pikiran yang positif pada diri seseorang.

Islam tidak menginginkan pemeluknya terus menerus larut dalam kesedihan, kekecewaan, dan putus asa. Islam ingin agar pemeluknya senantiasa bangkit setiap kali mengalami kejatuhan. Sebab berputus asa sama saja dengan tidak yakin akan rahmat Allah SWT. dan itu adalah bentuk kezaliman kepada diri sendiri dan kepada Allah SWT.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87)

Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”. Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”. (Al Hijr:55-56)

Seberat apapun masalahnya, sesulit apapun ujiannya, sesakit apapun jatuhnya, tetaplah menjadi pribadi yang waras. Semua itu bisa dicapai kalau kita pandai membangun mental positif dalam diri.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button