ESAI
Trending

Tempat Ternyaman Untuk Pulang

Sejauh yang kuingat Ibu tidak pernah benar-benar marah kepadaku kecuali satu kali.

Saat itu aku merengek minta uang kepadanya agar bisa main Nintendo yang disewakan seorang tetangga di rumahnya. Harga sewa Nintendo kala itu, kalau tidak salah, sebesar 500 Rupiah perjamnya.

Usaha yang kulakukan cukup alot dan memakan waktu lama. Namun, Ibu tak kunjung memberi apa yang kuminta.

Dengan perasaan kesal aku berlari ke rumah tetangga tersebut. Niatnya supaya hati Ibu menjadi luluh.

Tidak lama kemudian Ibu datang. Dia masuk tanpa permisi dan langsung memukuliku dengan payung sambil mengomel, membuat pemilik Nintendo dan beberapa teman terkejut.

Aku menangis kesakitan, sama sekali tidak menyangka Ibu akan bertindak seperti itu.

Karena malu, aku berlari pulang ke rumah sambil sesenggukan.

Di rumah, amarah Ibu belum pupus. Ibu masih saja mengomel dan sesekali mengayunkan payung ke tubuhku. Tangisanku akhirnya mereda di pojokan ruang tamu, meski mata masih sebab.

Begitulah ingatanku akan kemarahan Ibu, sekalinya dalam hidupku.

Kami memang bukan dari keluarga berada. Rumah kami terbuat dari bilik bambu dan pekerjaan Bapak sehari-hari hanya sebagai pembuat gula aren dan buruh tani di desa terpencil di Jawa Barat. Uang tentu menjadi masalah menyedihkan dalam keluarga kami. Mungkin itu alasan kenapa Ibu begitu marah kepadaku, atau saat kejadian Ibu benar-benar sedang tidak mempunyai uang.

Ibu tak pernah marah, rasanya, selain waktu itu. Ia wanita yang sangat sabar dan lebih sering mengalah.

Teringat betul bagaimana hari-hari ceria yang ditorehkan Ibu kepadaku.

Begitu tiba di depan rumah sepulang dari sekolah–waktu itu aku duduk di bangku TK, langsung kupanggil Ibu. Namun, tak ada sahutan. Aku masuk karena kulihat pintu tidak terkunci.

Ruang tamu kosong, tak ada Ibu. Aku beranjak ke dapur, tak ada ibu. Kupanggil sekali lagi sambil melongok ke arah sumur di belakang rumah, tak ada sahutan. Kuarahkan kaki menuju kamar.

Kubuka pintunya perlahan. Aku terdiam. Tak ada Ibu di dalam kamar. Aku mulai cemas dan sedih. Rasanya ingin menangis.

Ketika hendak berbalik, tiba-tiba Ibu muncul dari balik pintu kamar sambil mengagetkanku.

Aku terkejut sekaligus bahagia. Rupanya Ibu ada di rumah. Dia tidak ke mana-mana. Dia menungguku.

Aku menghambur ke tubuh Ibu dengan perasaan sayang. Kami tertawa sambil berpelukkan.

Meskipun laki-laki, dari sekian anak-anaknya, akulah yang paling sering membantu Ibu di dapur.

Aku membantunya mengupas bawang, mengulek bumbu, dan sesekali mengaduk masakan yang baru dituang ke dalam kuali.

Dengan baik hati ia mengajariku beberapa resep masakan.

Diam-diam aku berlinang air mata dan merasa begitu sedih saat pertama kali harus berpisah dengan Ibu karena melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas di kota kabupaten dan ngekos di sana. Oleh karena itu kepulanganku ke rumah setiap dua minggu atau sebulan sekali menjadi moment paling bahagia, meskipun pada akhirnya waktu dan tempat menempaku menjadi laki-laki yang jauh lebih kuat, termasuk ketika harus merantau ke pulau Sumatera selepas lulus dari sekolah menengah atas.

Bertahun-tahun aku berpisah dengan Ibu. Kabar hanya dilayangkan lewat jalur telepon genggam. Itu pun tidak sering, mengingat alat komunikasi satu ini masih sangat mahal untuk dimiliki setiap orang kala itu, termasuk diriku.

Rindu sudah pasti menyala di sini. Pulang sudah barang tentu menjadi kata yang paling dinanti. Bertemu Ibu sudah seperti mimpi paling tinggi yang ingin diraih. Hingga kini, di usiaku yang setua ini, perasaan-perasaan tersebut masih tetap tumbuh dengan subur.

Aku ingin selalu pulang … ke tempat paling nyaman: Ibu.

Palembang, 17 November 2022

Penulis: Akasia Shabir

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button