ESAI
Trending

Berbaik Sangka

Barangkali kita sudah terlalu kecewa dengan orang lain hingga memilih menutup mata dan hati dari sekecil apapun “sentuhan” yang orang berikan.

Pengalaman-pengalaman buruk yang diberikan orang lain kepada kita membuat kita berpikir tidak ada yang mampu membuat hidup ini aman dan nyaman selain diri kita sendiri dan “melarikan diri” dari orang-orang.

Menjauh dari orang-orang yang jelas-jelas toxit memang jalan utama yang harus ditempuh agar tetap bisa memiliki kehidupan yang waras. Namun, hal tersebut bukan berarti mengharuskan kita berpikir bahwa orang-orang tidak lagi bisa dipercaya, semuanya buruk, atau setidaknya susah sekali mencari orang baik di dunia ini.

Bukankah ada Allah di hati kita?

Keraguan akan kasih sayang Allah bisa jadi justru menjadi penyebab dijauhkannya orang-orang baik dari kehidupan kita serta menyulitkan kita mengambil hikmah dalam setiap kejadian.

Hari-hari yang kita lalui dipenuhi dengan kemarahan, dendam, kesedihan, dan khayalan yang tidak-tidak.

Kita membangun afirmasi-afirmasi semu yang tidak semakin memasrahkan hidup kita kepada Allah.

Kita merasa sendiri dan tidak puas, meski menutupinya dengan menampilkan diri seakan-akan kuat.

Sahabat, bagi saya, kebahagiaan itu diawali dengan kepasrahan, berserah diri kepada Allah.

Apa yang bisa kita ubah, ubahlah, dan apa yang tidak bisa kita ubah, ya sudahlah.

Teruslah berbaik sangka, teruslah meminta dihadirkan orang-orang baik dalam hidup kita, dan tentunya teruslah berbuat baik dan bertobat.

Penulis: Akasia Shabir

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button