ESAI
Trending

Rambu-rambu Orang Berilmu

Berbicara tentang cinta, ada begitu banyak rumus dan rasa yang bisa digambarkan. Ada kalanya orang tak bisa lagi membendung dan memfilter mana yang benar dan salah dalam mengekspresikan cinta. Dalam salah satu kesempatan di ruang rapat guru asrama SIT Al- Furqon Palembang, ada untaian kalimat yang disampaikan Ustad Alfi Muhammad selalu Kepala asrama yang menohok saya.

“Maksiatnya seorang guru berbeda dengan maksiatnya orang biasa”.

Sudahkah kita merenungi kalimat ini? Apa jangan-jangan kita termasuk dalam kelompok ini? Merasakan cinta bukan berarti kita mendekati zina, tetapi apakah benar cara kita mengemban cinta? Itu yang menjadi masalahnya.

Orang yang berilmu tentu saja memiliki rambu-rambu atau undang-undang yang tidak boleh dilanggar atau keluar dari batasannya. Karena seyogyanya ilmu yang mereka miliki mempunyai pengaruh yang besar untuk membentengi diri dari perbuatan zina. Orang awam tentu tidak mempunyai barometer itu dalam hidupnya. Inilah yang membedakan antara keduanya. Lalu bagaimana kalau dia berilmu, namun tetap melakukan kemaksiatan? Maka seperti yang dikutip dalam Kitab Shaidul Khathir karangan Imam Ibn Jauzi,

“Allah terlebih dahulu mengampuni tujuh puluh dosa orang yang bodoh sebelum mengampuni satu dosa yang dilakuka orang yang berilmu”.

Terlebih lagi ada hadis yang diriwayatkan dari al-Haitsam bin Malik ath-Tha’i dari Nabi Saw, berliau bersabda,

“Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah setelah syirik, dari dosa sperma yang diletakkan seorang laki-laki di dalam rahim yang tidak halal baginya.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya).

Dari Dua hadis tadi jelas sekali bahwa tidak boleh mendekati zina karena jelas kita akan menanggung akibat yang sangat pedih di sisi Allah Swt.

Bukan hanya akibat di akhirat, di dunia pun kita akan mendapat ganjarannya. Seperti yang dikatakan oleh Wahbah az-Zuhaili di dalam tafsifnya yaitu tafsir al-Munir beliau mengatakan bahwa seorang pezina akan mengakibatkan rusaknya nasab. Dan rusaknya nasab akan berdampak pada kehancuran dunia, karena ia mngakibatkan terjadinya pembunuhan dan pertikaian memperebutkan kemaluan. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa seorang pezina, terutama wanitanya akan selalu melekat padanya sesuatu yang di benci, karena perempuan pezina menjadi orang yang dibenci bahkan di masyarakat yang rusak.

Hal itu mengakibatkan orang tidak percaya padanya dan tidak mau menikahinya. Itu juga yang membuat orang-orang tidak mau mengandalkannya dalam keperluan dan kepentingan mereka. Oleh sebab itu jadilah orang yang berilmu, baik secara akal, ruhani, dan perilaku agar senantiasa dijaga oleh Allah Swt.

Penulis: RF. Rahma Sari
Editor: Akasia Shabir

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button