ESAI
Trending

Membangun Kebiasaan

Apa yang tersulit diajarkan kepada santri di asrama? Apakah materi pelajaran? Hafalan? Bukan. Tapi membangun kebiasaan.

Sungguh, membiasakan bangun sebelum fajar, merapihkan tempat tidur, menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, merapihkan sendal sepatu, baju-baju, buku, itu yang ternyata susah. Membiasakan tahajud, shoum senin kamis, sholat sunah rawatib, dhuha, itu yang ternyata berat. Disiplin ke masjid, tertib di masjid, tertib antrian makan, tertib belajar, tertib mandi, itu yang ternyata sulit. Membiasakan selalu tertib, disiplin, teratur, bersih dan rapi dalam segala hal, dalam semua jadwal, membutuhkan tenaga yang lebih ekstra.

Boleh jadi sebagian pembaca ada yang menganggapnya itu persoalan sederhana. Sebagian yang lain mungkin berpendapat namanya juga dipondok, asrama, pesantren, kurang bersih atau tidak rapih adalah hal yang wajar, sudah lumrah. Bahkan saya sering mendengar ungkapan “santri kalau belum gatal-gatal berarti belum santri beneran”.

Itu juga pengalaman saya pribadi waktu pesantren dulu. Tapi kami di sini ingin berbeda. Pimpinan al-Furqon berkali-berkali mengatakan, “harus bersih, harus rapih”.

Bahkan selimut dan sprei harus kencang, rapih, dan licin. Malu dengan saudara-saudara kita non muslim jika belum bisa seperti itu. Lihat singapura, jepang, barat! Betapa bersih, rapih dan disiplinnya mereka. Masa kita yang berpedoman al-Quran dan sunah begitu kumuh dan kotor.

Memang masih jauh panggang dari api antara harapan dan kenyataan. Di sini sana kami banyak kekurangan. Namun setidaknya itu menjadi impian kami dan kami harus berusaha keras mewujudkannya.

Penulis: Alfi Muhammad

Editor: Akasia Shabir

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button