ESAI
Trending

Qona’ah

“Barangsiapa tidak mau merasakan pahitnya belajar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.” (Imam Syafi’i)

Satu hal yang patut disyukuri di sini adalah fasilitas yang boleh dibilang agak sedikit nyaman. Kamar ber AC, ranjang dua tingkat, dan tiap satu kamar terdapat 5 kamar mandi.

Makanan juga terbilang variatif dan memenuhi kecukupan gizi. Daging ayam, rendang, ikan, telur, udang dan lainnya bergantian terhidang di meja makan. Apalagi makannya model parasmanan. Siswa dipersilahkan mengambil sendiri nasi sepuasnya, sayur mayur, kerupuk, terkecuali lauk utama yang memang dibatasi.

Namun masih saja ada beberapa siswa yang masih kurang berselera. Mungkin karena di rumah punya standar makan yang lebih tinggi. Tentu saja kami tetap suruh makan. Kadang dengan sedikit memaksa. Kami sampaikan belajarlah qanaah. Menerima apa yang ada. Di luar sana, banyak penuntut ilmu yang makanannya sangat sederhana. Sebagian assatidz di sini juga punya pengalaman mondok yang memprihatinkan. Nasi alakadarnya, apalagi lauk. Yang dimakan hanya tahu tempe, hampir tiap hari. Kadang juga hanya nasi kecap. Intinya harus pandai-pandai bersyukur.

Di luar itu, kepada siswa kami sampaikan, fasilitas dan gizi bukanlah penentu keberhasilan. Untuk apa kenyamanan kalau justru melenakan. Kenyamanan dihadirkan supaya kalian bisa sepenuhnya fokus terhadap ilmu. Bukan sebaliknya. Kenyamanan yang melalaikan dari ilmu. Apalagi kalau sampai merubah orientasi, seperti menjadi terlalu fokus pada fasilitas tapi melupakan pertumbuhan akhlak dan pengetahuan. Misalnya lagi berfikir saya membayar di sini karena fasilitasnya, bukan pendidikannya. Itu sudah disorientasi namanya.

Penulis: Alfi Muhammad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button