KALAM
Trending

Para Pemilik Akal Besar

Akal-akal besar adalah alasan di balik hadirnya peradaban besar. Oleh sebab itu setiap gagasan atau ide besar tidak boleh disumbat atau dimatikan.

Bahkan Allah mengabadikan kisah Adam dalam al-Quran agar kita tidak melupakan keterpautan dengan manusia pertama itu yang diajarkan tentang nama-nama dan diturunkan ke bumi untuk memakmurkannya dan mengelola peradabannya dengan bekal kecerdasan dan semangat hidup bercucuran keringat dan kepayahan.

Di era yang disebut Malik bin Nabi sebagai awal, tengah, dan puncak peradaban Islam, kira-kira sejak abad pertama hijirah hingga masa dinasti Muwahidun, atau hampir satu milenium, Islam mampu memimpin peradaban dunia berkat akal-akal besar yang menopangnya.

Kita memiliki banyak tokoh yang tidak hanya purna dalam kafa’ah syar’i namun sangat pakar dalam ilmu-ilmu sosial dan terapan. Kita mencipta dan memiliki produk peradaban sendiri bahkan memberikan sumbangan terbesar bagi lahirnya abad modern.

Nama-nama dari Imam Syafii, al-Ghazali, al-Bukhari hingga al-Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, dan lain sebagainya adalah sebagian kecil contoh maestro akal-akal besar.

Mereka memahami zamannya sekaligus memenuhi kebutuhan-kebutuhan peradabannya, bahkan kontribusinya hingga menembus ruang dan waktu, di samping mampu menggelar kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat manusia, sampai-samoai di era khalifah Umar bin Abdul Aziz, amil-amil zakat negara berkeliling benua Afrika mencari fakir miskin yang berhak menerima zakat.

Lalu, dimana para pewaris besar itu sekarang ?

Di era modern ini, jangankan memberi jawaban atas problematika peradaban yang demikian rumit dan musykil, untuk memahami dirinya sendiri, sumber ajarannya sendiri, dan warisan peradabannya sendiri saja tidak sanggup.

Akal-akal muslim terlihat tidak berdaya di hadapan dominasi peradaban modern barat sekuler.

Mungkin itu sebabnya, Malik bin Nabi terkesan pesimistis dengan menyebut peradaban Islam kini tengah berada di jalur pasca peradaban, bukan di awal, di tengah, apalagi di puncak.

Pasca peradaban adalah era peradaban yang menujukkan grafik terus menurun, sementara kaum muslim hanya sebagai konsumen peradaban dan bahkan merasa inferior saat harus menunjukkan jati dirinya.

Namun, setidaknya, awal abad 21 ini wajah dunia Islam telah sedikit berbeda dengan sewaktu Malik bin Nabi hidup, yaitu awal dan pertengahan abad 20. Meskipun peradaban kita masih terlihat sekarat, namun banyak pemikir besar Islam kontemporer menilai, gaung kebangkitan Islam kini semakin terasa di seluruh penjuru dunia.

Para tokoh pembaharu besar sejak Afgani, Iqbal, Abduh, Hasan al-Bana, Sayyid Qutb, Maududi, Muhammad al-Ghazali, Yusuf al-Qorodhowi dan lainnya, telah berhasil meletakkan pondasi kebangkitan yang menyadarkan kaum muslim sekaligus membangun kerangka pemikiran untuk perkembangan peradaban. Mereka merupakan para tokoh dengan akal besar yang ketajaman pikirannya menjangkau jauh ke masa depan.

Dan sekarang, menurut al-Qordhowi, bahkan kita lebih membutuhkan banyak akal-akal baru untuk berpartisipasi dalam gerakan yang disebutnya jihad intelektual. Ia mengutip firman Allah,

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka untuk memperdalan pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” ( Qs. At-Taubah :122)

Penulis: Alfi Muhammad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button