KALAM
Trending

Merantau Ilmu

Awalnya mata mereka sering sembab. Nyaris setiap hari anak-anak ini menangis terkenang orang tua dan rumah mereka yang nyaman. Demikian pula dengan ayah bunda mereka. Terkadang rasa sedih tak bisa mereka tutupi ketika hendak meninggalkan anak-anaknya yang baru tumbuh itu. Sesekali tangan menyeka air mata. Suara bergetar menahan isak tangis. Berat sekali rasanya jauh dari orang tercinta.

Tapi begitulah kenyataannya. Apa boleh buat?Kesedihan itu harus direlakan demi masa depan indah anak-anaknya. Berpisah sementara untuk ilmu insya Allah akan berakhir bahagia. Hari ini menangis karena bersedih, tapi nanti anak-anak itu akan membuat mereka menangis karena bangga. Kami pengasuh selalu mengingatkan, titipkan saja semua pada Allah. Allah yang akan menjaga mereka. Karena penuntut ilmu, sebagaimana kata Nabi saw, tengah berada di jalan Allah hingga mereka kembali. Allah tidak akan menelantarkan orang yang berjuang di jalanNya.

Kalau berkaca dari sejarah, tokoh besar punya tradisi merantau ilmu. Ditinggalkannya rumah menuju tempat-tempat terjauh demi ilmu. Imam Syafi’i, Bukhari, Ahmad bin Hanbal, al-Ghazali, dan lainnya. Sedari dini telah meninggalkan tanah kelahiran. Dilaluinya panas gurun pasir, angin dingin, dan malam-malam sunyi. Tapi itu yang menempa mereka menjadi tokoh terkemuka. Merantau atau hijrah adalah jalan penuntut ilmu. Bahkan Nabi sendiri hijrah; berpindah meninggalkan Mekah menuju Madinah. Dari perantauan itu diraihlah hikmah, pengetahuan, dan kebesaran.

Kini, setelah berpurnama berlalu, anak-anak itu sudah ceria. Tertawa mereka lebih lepas. Di asrama mereka menemukan keluarga baru, saudara baru dan sahabat baru. Perlahan mereka tumbuh lebih kuat dan mandiri. Sudah bisa merapihkan tempat tidur sendiri, selimut, sprei. Melipat baju, mengatur jadwal, mengelola barang, bertanggung jawab. Kesibukan ilmu melenyapkan bayang-bayang sedih. Bukan berarti tak ada rindu lagi, justru kerinduan mereka semakin dalam. Namun, mereka telah berjanji, kerinduan ini harus jadi kebanggaan. Saat kembali pulang nanti, pertemuan itu mesti berbuah manis.

Penulis: Alfi Muhammad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button