ESAI

Kebebasan Yang Sebenarnya

Tidak semua siswa yang di asrama atas kemauannya sendiri. Ada beberapa yang di’paksa’ orang tua. Anak-anak justru inginnya menikmati waktu dalam suasana yang bebas. Maklum mereka tengah beranjak remaja. Bisa kongkow-kongkow bareng teman. Main game, nonton. Sepuasnya. Kelapa muda dikupas-kupasin, kelapa tua tinggal batoknya. Masa muda dipuas-puasin. Masa tua tinggal bangkotnya.

Sementara di asrama semua terjadwal. Dari bangun tidur sampai tidur lagi ada aturannya. Itu yang menimbulkan kesan ngeri. Terbukti ada siswa yang merasa kebebasannya terenggut. Tidak betah. Seminggu dua minggu mulai mundur teratur. Tapi itu hanya satu dua orang. Mayoritasnya mulai menikmati proses. Kepada mereka kami sampaikan pepatah lama” alah bisa karena biasa”. Semua akan bisa karena terbiasa. Hari ini terpaksa, tapi setelah terbiasa akan menerima. Seperti misalnya, ada beberapa siswa yang sulit sekali shalat sunah rawatib. Kami pasti tegur. Sambil terlihat enggan mereka berkata,

“Tadz, kenapa main paksa, sih, kan percuma shalat kalau tidak ikhlas?”

Anak-anak di sini memang lumayan kritis. Sambil tersenyum kami berkata,

“Kalian pilih mana, dipaksa masuk surga atau ikhlas masuk nereka?”

Biasanya mereka jawab lebih pilih dipaksa masuk syurga. Jadi masih ada kekeliruan berpikir. Kalau paham, masuk surga itu harusnya berebut bukan malah dipaksa. Tapi begitulah, untuk paham memang butuh waktu.

Penulis: Alfi Muhammad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button