KALAM

Belajar Cita-Cita Dari Hijrah Nabi Muhammad SAW

Lelaki yang akan memburu sang Nabi itu terperangah. Tak mungkin orang yang terusir dan tertindas akan menguasai adidaya Persia. Namun, Suraqah bin Malik memilih percaya. Maka ia masuk islam.

Kisah lengkapnya terdapat dalam sahih Bukhari. Sewaktu hijrah, Suraqah mencium keberadaan Nabi saw. Lalu mengejarnya hingga jarak antara dia dengan Nabi Saw menjadi dekat. Namun sebelum berhasil menyentuh Nabi Saw, kudanya berkali-kali terperosok dengan sebab yang dia tidak mengerti. Barulah ia paham bahwa NAbi Saw dan sahabatnya dilindungi oleh Rabb semesta alam.

Lantas Nabi bertanya pada Suraqah ,” Bagaimana jika suatu saat nanti engkau mengenakan gelang-gelang Kisra?” Suraqah bertanya, ” Kisra bin Harmuz?”. Rasulullah Saw menjawab, ” Ya, Kisra bin Harmuz.”

Begitulah sang Nabi, selalu memberi harapan dan optimisme. Bahwa hijrahnya adalah sebuah perwujudan mimpi besar. Cita-cita besar. Penindasan Mekah tidak boleh melumpuhkan jiwa. Penentangan kaumnya tak boleh menyentuh wilayah mimpinya. Agama baru ini harus dibesarkan meski dengan meninggalkan tanah air dan kampung halaman. Hidup tidak boleh tergenang apalagi kebenaran.

Itu intinya.

Hijrah adalah tentang harapan. Tentang kayakinan menerobos gelap. Tentang menggenggam cita-cita hingga terakhir. Dalam hijrah tersimpan keberanian yang meredam ketakutan. Kekuatan yang meretakkan kelemahan. Hijrah melempar segala khawatir, ketidak pastian, dan keterbatasan ke ruang hampa. Pun segala rintangan dan kesulitan dibiarkan tak bernafas di sana. Tak ada watu berpedih-pedih bagi pemberani.

Sejarah kemudian menorehkan. Hijrah adalah lompatan peradaban. Lompatan negara Madinah untuk peradaban dunia. Para pemberani itu mencipta percik islam hingga merambat ke seantero jazirah Arab. Kemudian ke Irak, Syam, Palestina dan Mesir. Dan sinar itu terus memercik melewati batas teritorial dan geografis ke seluruh dunia.

Pada masa Umar bin Khattab, setelah melalui pertempuran sengit dan berdarah di Qadisiya dan Nahawand, Persia ditaklukan, demikian juga istana dan perbendaharaan hartanya yang melimpah ruah, termasuk gelang-gelang emas kaisar Persia. Umar teringat akan berita gembira Rasululllah saw terhadap Suraqoh. Karena itu ia berteriak, ” Dimana Suraqah bin Malik ?

Saksi hidup mimpi hijrah sang Nabi itupun menyeruak di tengah kerumunan dan berkata,

“Ini aku wahai Amirul Mukminin.”

Umar berkata, “Ingatkah engkau suatu hari Nabi Saw menyampaikan begini dan begitu kepadamu ?”

“Ya, aku masih ingat dan tidak melupakannya.”

“Kemarilah … aku akan memakaikan kepadamu gelang-gelang Kisra”

Subhanallah. Belajarlah cita-cita dari Hijrah. Dunia terus berputar. Hari akan berganti. tak selamanya malam. Akan tiba saatnya fajar menyingsing. Matahari akan kembali terbit. Kesulitan akan berlalu. Kesedihan akan lapuk. Dalam rentang tersebut haram kita tergenang.

Jangan diam. Biarkan air mata duka mengering bersama hari-hari yang telah pergi. Tata kembali harapan-harapan yang mulai tercecer. Susun agenda-agenda besar, target-target, dan tujuan-tujuan.

Tanamkan spirit hijrah kuat-kuat di alam jiwa.

Penulis: Alfi Muhammad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button