ESAI

Adab Sebelum Ilmu

Ada banyak tujuan orang tua menitipkan anaknya di sini. Tapi kami menggaris bawahi satu yang terpenting. Rata-rata mereka ingin anaknya menjadi anak yang shaleh. Sebagiannya malah berkata,

“kami tidak terlalu memusingkan rangking asal anak-anak kami tumbuh berakhlak baik, rajin ibadah, dekat dengan al-Quran. Kami ingin anak baik dunia akhirat.”

Tentu saja kami berikhtiar mengharmonikan semuanya; akademis, akhlak, dan spiritual. Tapi harapan orang tua rasanya tidak berlebihan. Kita hidup di abad puncak intelektual, modernitas dan teknologi. Satu dampak negatifnya adalah rusaknya adab. Narkoba, kriminalitas, pergaulan bebas, tawuran, mengumbar aurat, LGBT memapar anak-anak kita. Anak membunuh orang tua, perkataan kotor, kecanduan smart phone, game, dan masih banyak lagi.

Itu sebabnya di sini kami sangat memperhatikan adab. Terlebih para ulama sepakat kada al-adab qabla al-ilmi. Posisi adab itu sebelum ilmu. Adab-adab diajarkan benar, mulai dari adab tidur, adab makan, adab bicara, mandi, bergaul, belajar, adab terhadap orang tua, terhadap guru, terhadap yang lebih tua, lebih kecil, adab di rumah, di masjid, dan lain-lain.

Sikap keseharian harus memperhatikan adab. Belajar mengantri, makan dengan tangan kanan, memungut sampah, berkata sopan, jujur, saling melindungi, menyayangi. Semuanya.

Dalam adab tersimpan keberkahan. Adab yang baik memperindah pribadi. Pintar tapi kurang adab mencipta keangkuhan. Mencipta penyimpangan. Mungkin karena hal itu, Abdullah bin Mubarok berkata,

“Aku belajar adab 30 tahun lamanya, dan belajar ilmu 20 tahun lamanya.”

Penulis: Alfi Muhammad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button