DUNIA PENDIDIKANINSPIRASI

Menjadi Guru Adalah Takdir Terindahku

Oleh: Andesha Rasyan

Tak pernah sedikit pun dalam diriku terbersit keinginan ataupun cita-cita untuk menjadi seorang guru. Bagiku, kala itu, menjadi guru hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang mau dan mampu, sementara aku menganggap diriku tak mau dan tak mampu.

Ketika SD cita-citaku tak tentu. Ada kalanya ingin jadi ini, ada kalanya ingin jadi itu. Menginjak SMP, aku bercita-cita menjadi seorang penjahit. Alasannya sederhana: karena Penjahit adalah profesi bapakku. Lain lagi ketika duduk di bangku SMA. Cita-citaku ialah menjadi pengusaha. Obsesi tersebut membuatku menggemari materi yang berkaitan dengan Ekonomi dan Bahasa Inggris. Pikirku dengan menekuni dua bidang tersebut sedari SMA akan memudahkanku mengambil study jurusan Ekonomi maupun bahasa Inggris di kemudian hari.

Salah satu usaha yang kulakukan untuk mewujudkan cita-citaku ialah dengan mengambil beasiswa di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Tiga hari dua malam kuhabiskan hanya untuk mengurus semua persyaratan di ibu kota kabupaten. Itu belum termasuk waktu pengiriman berkas-berkas tersebut melalui jasa pengiriman. Sementara batas pendaftaran hanya tersisa enam sampai tujuh hari lagi.

Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus dalam program beasiswa tersebut. Segera setelah itu aku mempersiapkan segala kebutuhan belanja, meskipun dengan cara mencicil. Selanjutnya aku tinggal menunggu waktu keberangkatan yang dijadwalkan beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri.

Saat menunggu waktu keberangkatan itu perasaanku campur aduk, antara bahagia, sedih, dan juga cemas. Bahagia karena aku akhirnya bisa meniti jalan menggapai cita-citaku. Sedih karena harus berpisah dengan kedua orang tua, saudara, dan kampung halaman. Cemas karena tidak tahu apa yang sebenarnya telah menungguku di tempat baru tersebut.

Qodarullah. Satu minggu menjelang lebaran Idul Fitri aku mendapatkan informasi dari pihak Universitas bahwasanya program beasiswa tahun itu dibatalkan. Alasan banyak mahasiswa yang telah mendapatkan beasiswa tersebut tidak menggunakan kesempatan dan fasilitas yang diberikan dengan sebaik mungkin.

Perasanku hancur. Dunia terasa runtuh. Aku sempat oleng. Tak bisa kujelaskan secara rinci bagaimana perasaanku saat mendengar kabar tersebut. Cita-cita dan harapan yang sudah di depan mata seolah sirna seketika. Bahkan kesempatan untuk bisa kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Semarang melalui jalur undangan pun kandas karena orang tua tak merestui hanya karena masukandari teman-teman bapakku yang sekaligus guru-guruku di Pesantren.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan nasibku berikutnya.

Frustasi karena gagal melanjutkan kuliah di dua tempat tersebut, kusampaikan niat kepada orang tua untuk bekerja dan melanjutkan kuliah di tahun depan. Kebetulan saat itu aku mendapat tawaran bekerja di salah satu perusahan besar di kota Pekan Baru. Lagi-lagi keinginanku tak direstui orang tua.

“Kuliah tahun ini atau tidak selamanya!” kurang lebih seperti itu yang dikatakan bapakku.

Mau tak mau keesokan harinya aku berangkat ke Palembang guna mencari kampus yang masih menerima calon mahasiswa baru.

Dari sekian kampus yang kudatangi hanya Ma’had Sa’ad Bin Abi Waqqash, sebuah lembaga pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Palembang yang masih membuka penerimaan mahasiswa baru.

Dengan berat hati aku mendaftar di kampus tersebut.

Saat itu aku merasa semua cita-cita dan harapanku untuk kuliah di jurusan Ekonomi maupun Bahasa Inggris semakin terkubur dalam. Ditambah lagi aku diminta orang tuaku untuk tinggal di asrama kampus. Di manapun yang namanya asrama pasti tidak lepas dari tata tertib dan aturan.

Waktu terus berjalan; hari berganti hari; minggu bertemu minggu; bulan dan tahun berkejaran. Tanpa terasa perubahan itu mewujud dalam hidupku. Dari awalnya terpaksa, tersiksa dan tak ikhlas menjalani hari-hari sebagai mahasiswa Mahad Sa’ad Bin Abi Waqqosh bergeser menjadi rasa syukur yang tiada terkira

Di kampus tersebut aku bertemu dengan sahabat-sahabat yang luar biasa; sahabat yang tukus memberi motivasi dan nasehat. Mereka meyakinkanku bahwa tidak semua yang kita harapkan adalah baik untuk kita. Allah sedang memilihkan jalan terbaik untukku dengan dikumpulkannya diriku bersama orang-orang hebat di sana. Pemahaman agamaku bertambah, ibadahku terjaga, dan pergaulanku pun aman terkendali. Di sana kami saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kebenaran.

Menjelang kelulusan, aku dan beberapa orang kawan ditawari untuk menjadi guru di salah satu sekolah Islam Terpadu di kota Palembang. Aku sempat ragu. Menjadi guru bukanlah keinginan utamaku kala itu. Selain itu aku telah berencana untuk melanjutkan kuliah lagi guna mengambil gelar S1 begitu selesai dari Ma’had Sa’ad bin Abi Waqqos.

Dari sekian banyak kawan-kawanku yang ditawari, ternyata tak ada satu pun dari mereka yang mengambil kesempatan tersebut.

Singkat cerita, setelah melalui proses berpikir yang lumayan panjang, akhirnya aku bersedia mengambil lowongan tersebut dengan syarat saat sudah menjadi guru nanti aku tetap diperbolehkan melanjutkan studyku.

Masa-masa awal menjadi guru sangatlah canggung. Kurangnya minat dan minimnya pengalaman sebagai guru membuatku harus beradaptasi sekeras mungkin. Belum lagi upaya untuk mengenal lebih dalam karakter siswaku satu persatu.

Dua tahun lebih hari-hari yang kujalani terasa begitu berat. Pagi ke sore kuliah, sore ke paginya lagi bekerja menjadi guru. Rasa letih seakan telah ditakdirkan untuk menjadi makanan harianku. Hingga akhirnya aku berhasil menyelesaikan studi S1-ku.

Meskipun masih belum seutuhnya ikhlas menjadi guru, aku terus belajar untuk mencintai profesiku. Aku teringat dengan ucapan seorang trainer,

“Cintailah profesimu, maka kamu akan menikmati setiap pekerjaan tanpa keluh kesah.”

Perlahan tapi pasti aku mulai nyaman menjadi guru. Kunikmati setiap detik, setiap proses, setiap hal yang mengantarkan siswa-siswaku menuju pintu gerbang kesuksesan.

Satu hal yang memperkuat jiwaku: menjadi guru sama dengan menanam amal yang pahalanya tidak pernah terputus meskipun maut memisahkan nyawa dari raganya. Terlebih ilmu yang kita ajarkan adalah ilmu agama.

Aku sadar, kegagalanku melanjutkan kuliah dulu mengandung hikmah besar dari Allah. Ternyata Allah telah merencanakan sebuah skenario paling indah buatku. Allah arahkan Takdirku untuk menjadi guru, Allah pilihkan jalan terbaik agar aku siap menjadi seorang guru, Allah bimbing hatiku untuk ikhlas dan menerima bahwa aku ditakdirkan menjadi seorang guru.

Tak terasa hampir sembilan tahun aku menjadi seorang guru di lembaga yang sama. Lembaga yang mengajarkanku untuk memahami bagaimana sejatinya seorang guru.

Hari ini aku masih terus menikmati profesi ini. Tentu dengan segala resiko yang menghadang di tengah jalan.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button