NEWS
Trending

Kunci Kebahagiaan dan Keselamatan Ada Dalam Berbakti Kepada Orang Tua

Sadar tidak sadar pola pikir dan tindakan masyarakat muslim modern saat ini telah banyak dipengaruhi paham liberalisme dan individualisme dalam mengatur kehidupan rumah tangganya. Tidak heran bila kita dapati hubungan antara suami dengan istri, anak dengan orang tua, maupun sesama saudara terkesan renggang dan jauh dari nilai-nilai islami. Hal tersebut menjadikan hak dan kewajiban antar anggota keluarga tidak tertunaikan sebagaimana mestinya.

Oleh sebab itu perlu kiranya kita bertafakur dan merenung sedalam-dalamnya atas fenomena tersebut. Jangan kita biarkan terjadi lagi, orang tua yang mengeluh, menyesali, bahkan menangis tatkala mendapati tingkah laku anaknya sedemikian buruk.

Betapa hancur perasaan seorang ibu yang mengandung dengan susah payah dan seorang ayah yang banting tulang mencarikan nafkah untuk membesarkan anak-anaknya, namun setelah dewasa mereka seolah lupa siapa yang selama ini telah banyak berjasa kepada mereka. Bahkan tidak sedikit yang memandang rendah ibu bapaknya karena merasa telah menjadi orang yang sukses. Tidak sampai di situ, ada juga diantara mereka yang sampai tega menelantarkan orang tuanya sendiri di usia senja.

Pada suatu hari di zaman Rasulullah saw, ada seorang pemuda yang menghadap kepada Rasulullah. Pemuda tersebut mengadukan ayah kandungnya karena telah mengambil harta miliknya. Atas dasar pengaduan itu Rasulullah memerintahkan agar sang ayah dihadapkan kepada beliau. Maka datanglah ayah pemuda tersebut. Ia adalah seorang tua renta yang tak bisa lagi berdiri tegak dan tidak bisa berjalan dengan cukup baik tanpa bantuan tongkatnya.

Rasulullah Saw memandang orang tua tersebut dan tanpa sadar meneteskan air mata.

Ayah si pemuda itu berkata kepada Rasulullah Saw,

“Ya Rasul, aku memang mengambil harta milik anakku. Aku mengambil harta miliknya hanya agar bisa memberi makan kepada ibunya yang sedang sakit di rumah. Dulu, akulah yang kaya dan anakku yang miskin; dulu, akulah yang punya apa-apa dan anakku yang tak berada; dulu akulah yang hebat dan anakku yang lemah. Sekarang, akulah yang tak punya dan dialah yang punya; sekarang, akulah yang miskin dan dia yang kaya. Ya Rasulullah, dulu, ketika dia mengambil harta milikku, aku tak pernah memarahinya, tapi saat aku hanya ingin mengambil makanan di rumahnya untuk memberi makan kepada ibunya yang sakit, dia malah marah, membentak, dan mengusirku dari rumahnya. Ya Rasulallah, maafkanlah perbuatan orang tua yang telah renta ini.”

Rasulullah Saw melihat kepada si pemuda dan berkata sambil menangis,

“Anta wa Malika liabika. Kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu.”

Memang tidak ada perjanjian tertulis antara anak dengan orang tua dalam perkara-perkara tersebut. Akan tetapi pantaskah seorang anak berbuat durhaka kepada orang tua yang telah banyak berjasa dalam kehidupan anaknya? Pantaskah seorang anak berbuat zalim kepada mereka? Bukankah setetes darah yang keluar ketika seorang ibu melahirkan tidak akan pernah mampu terbayarkan meskipun dengan langit dan bumi beserta isinya? Pantaskah seorang anak berbuat zalim kepada seorang ayah yang ketika anaknya sakit menjadi orang pertama yang merasa terpukul, lalu berusaha sekuat tenaga mengupayakan kesembuhan anaknya tersebut? Tak dipedulikannya lagi kegelapan malam, tak dihiraukannya lagi derasnya hujan, tak dipandangnya lagi setiap rintangan di depan mata hanya agar anaknya bisa kembali sehat dan ceria

Bahkan, demi kebahagiaan anak-anaknya di Hari Raya, mereka rela berpakaian seadanya agar bisa memberikan pakaian baru kepada anak-anaknya.

Pantaskah seorang anak durhaka kepada mereka?

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra ayat 23).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk surga,” (HR Muslim).

Diriwayatkan Bukhari, dari Abu Bakar, Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah aku memberitahumu tentang dosa terbesar?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.”

Maka jadikanlah berbakti kepada kedua orang tua sebagai kunci kebahagiaan dan keselamatan.

Inilah nilai-nilai Islam yang harus tetap kita jaga dan jalankan dalam kehidupan.

Penulis: Ferdiko Arif

Editor : Akasia Shabir

 

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button