ESAINEWS

Satu Hari di Asrama

KEGELAPAN yang menyelimuti kamar-kamar asrama sirna digantikan terang lampu yang dinyalakan para mentor.

Seruan membangunkan mereka yang masih terlelap menjadi irama tersendiri selama beberapa menit. Derit ranjang pertanda tubuh-tubuh terbangun akhirnya terdengar bersusulan. Secara bertahap tubuh-tubuh setengah sadar itu memasuki kamar mandi.

Sisanya menunggu seraya merapikan selimut dan seprai kasur masing-masing. Dari arah kamar mandi, suara kucuran dan deburan air bercampur menjadi satu. Wangi sabun beserta sampo menguar ke segala arah.

Setelah semua memakai seragam lengkap, para santri ikhwan digiring menuju masjid, sementara santri akhwat menuju mushola. Ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum azan subuh berkumandang.

Mereka memanfaatkan waktu tersebut dengan melaksanakan salat Tahajud dan menghafal beberapa ayat Al-Qur’an. Tidak sedikit dari mereka yang masih dihinggapi rasa kantuk.

Itu sebabnya tubuh-tubuh bergelimpangan menjadi pemandangan yang bisa kita saksikan pada waktu tersebut. Untungnya mereka yang tertidur itu segera dibangunkan oleh para mentor sehingga ritme kegiatan asrama kembali lancar.

Usai salat Subuh para santri menghafal Al-Quran dan menyetorkannya kepada mentor kamarnya masing-masing. Kegiatan tersebut berakhir pada pukul 06.00 dilanjutkan dengan sarapan. Barulah pada pukul 06.30 atau lebih mereka benar-benar meninggalkan asrama untuk melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah.

Para santri yang masih duduk di bangku SMP kembali ke asrama pukul 16.00. Sedangkan mereka yang SMA kembali pada pukul 17.00.

Mereka pulang dengan roman muka yang berbeda-beda. Ada yang terlihat bahagia dan semangat, ada yang tampak lesu dan murung, ada pula yang datar dan tenang. Wajah-wajah itu kembali ke asrama dengan membawa ceritanya masing-masing.

Cerita yang kemudian akan dibagi dengan penuh antusias saat berkumpul bersama teman-temannya di kamar, maupun cerita yang pada akhirnya hanya akan disimpan dan dikenang sendirian.

Mereka makan malam pukul 17.15 hingga pukul 17.40. kemudian disambung dengan melaksanakan kegiatan zikir Alma’surat dan membaca surat Al-Baqarah berjamaah sampai azan Magrib berkumandang.

Bada Magrib, mereka belajar tahsin hingga menjelas Isya. Tepat pukul 20.00, mereka melaksanakan pembelajaran kitab sampai pukul 21.30. Setelah memberesi perlengkapan belajar dan urusan masing-masing, mereka beranjak tidur.

Semua ini memang bukan keseluruhan dari cerita mereka di asrama. Masih ada sederet cerita mereka yang patut untuk dikisahkan. Tapi setidaknya, begitulah satu hari dibuka dan ditutup di Asrama SIT Alfurqon Palembang.

“Asrama mengajarkan saya arti kemandirian dan perjuangan tanpa kenal lelah. Tidak mudah menggapai cita-cita. Itu sebabnya para mentor kami (Ustad dan Bunda) mengajarkan dan menggembleng kami untuk menjadi pribadi yang tangguh, tidak cengeng, dan bersedia menjalani setiap proses menuju sukses, baik dunia maupun akhirat,” tutur Sheryl Syfa Nabila, santriwati penghuni kamar Siti Khodijah binti Khuwailid, sekaligus siswi SMA IT Alfurqon Palembang kelas X.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button